<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Interpersonal Communication in Deaf Families</article-title>
        <subtitle>Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Penyandang Tunarungu</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-b0a708e555d65169fe884c1f92ba81d9" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Rahmita</surname>
            <given-names>Leony Setia</given-names>
          </name>
          <email>leony.setia.rahmita@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-a8503f50fcff120a09bbbd5abd1aad37" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Aesthetika</surname>
            <given-names>Nur Maghfirah</given-names>
          </name>
          <email>fira.umsida@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-09-14">
          <day>14</day>
          <month>09</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-27126de86b703cafbdfa9c8d40d446eb">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-15">Keluarga adalah sekumpulan orang yang terhubung oleh adanya ikatan darah, perkawinan, maupun adopsi yang mana setiap anggota keluarga memiliki hubungan interpersonal dalam menjalankan kewajiban serta memberi dukungan satu sama lain [1]. Pada umumnya, keluarga inti terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak. Dalam buku Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus pun menyebutkan bahwa keluarga juga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap orang. [2] Oleh sebab itu, komunikasi secara personal menjadi salah satu hal penting untuk menunjang pembentukan kepribadian seseorang, maupun cara bersosialisasi.</p>
      <p id="_paragraph-16">Dalam proses membangun keluarga bahagia, faktanya komunikasi menjadi salah satu kunci yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini selaras dengan pengertian komunikasi menurut Claude Shannon dan Warren Weaver (2016) yaitu merupakan sebuah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya, baik sengaja maupun tidak disengaja. Adapun unsur-unsur komunikasi ialah mencakup komunikator, pesan, media, komunikan, umpan balik dan <italic id="_italic-18">noise</italic> [3] Orangtua berperan penting untuk mendidik anaknya. Melalui pembelajaran dari usia dini, yang dikomunikasikan sehari-hari. Jika aliran informasi antara penyampaian pesan dan penerimaan pesan berjalan dengan lancar, pesan yang disampaikan mendatangkan kejelasan dan pencerahan/penyadaran (bukan manipulasi atau kebohongan) maka komunikasi yang baik dapat terjadi.</p>
      <p id="_paragraph-17">Sedangkan kegagalan penyampaian informasi dapat terjadi ketika terdapat perbedaan kondisi kemampuan pendengaran antara orang tua dan anak yang rentan memunculkan kesalahpahaman sebagai akibat perbedaan dalam penyampaian maksud dan keinginan. Interaksi dan intensitas kebersamaan orangtua penyandang tunarungu, turut menentukan tiap detail tumbuh kembang anak yang memiliki pendengaran normal. Hubungan interpersonal memiliki tiga kebutuhan dasar yaitu afeksi, inklusif dan control. Dan orang tua yang tunarungu tentu perlu menyesuaikan keterbatasan dirinya dengan tanggung jawab mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut.[4]</p>
      <p id="_paragraph-18">Dari hasil penelitian Bram Leonardo (2018) yang berjudul “Pola Asuh Orangtua Pada Anak Tuna Rungu Di Kelurahan Sail Kecamatan Tenayan Raya” menunjukkan bahwa dalam mengasuh anak, orangtua berkebutuhan khusus ini akan sedikit merasa kesulitan untuk berinteraksi [5] Hal ini dikarenakan keterbatasan bahasa (komunikasi verbal) dari orangtua untuk disampaikan kepada anaknya. Dengan kondisi tersebut, orangtua akan jauh lebih banyak menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi</p>
      <p id="_paragraph-19">Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti telah menguraikan tentang “Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Penyandang Tuna Rungu”.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-3c789ebd741c9aefbc8fac31e0f9179e">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-21">Menurut Moelong yang dikutip dalam buku Prosedur Penelitian milik Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (2013) penelitian kualitatif adalah tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dicermati oleh peneliti, dan benda-benda yang diamati sampai detailnya agar dapat ditangkap makna yang tersirat dalam dokumen atau bendanya. [6]</p>
      <p id="_paragraph-22">A. Subjek dan Lokasi Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-23">Orangtua yang menyandang tunarungu serta memiliki anak berpendengaran normal khususnya alumni SLB Aisyiyah Tulangan tahun 2015. Keluarga atau sanak saudara dari orangtua tunarungu dan anak berpendengaran normal. Penelitian ini dilakukan di kediaman narasumber yang berlokasi di Desa Jiken RT 01 / RW 01 Kecamatan Tulangan – Kabupaten Sidoarjo.</p>
      <p id="_paragraph-24">B. Teknik Penentuan Informan</p>
      <p id="_paragraph-25">Dalam menentukan informan, peneliti berfokus untuk memilih informan yang relevan dengan judul penelitian. Dimana peneliti menggunakan teknik <italic id="_italic-19">Purposive Sampling.</italic> Pada penelitian ini, adapun informan-informan yang ditentukan oleh peneliti yaitu 1) Orangtua yang menyandang tunarungu serta memiliki anak berpendengaran normal khususnya alumni SLB Aisyiyah Tulangan tahun 2015. 2) Keluarga atau sanak saudara dari orangtua tunarungu dan anak berpendengaran normal.</p>
      <p id="_paragraph-26">C. Teknik Pengumpulan Data</p>
      <p id="_paragraph-27">Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. [7] Observasi yang dilakukan oleh peneliti berupa mengamati secara langsung di Desa Jiken RT 1 RW 1 mengenai komunikasi interpersonal dalam keluarga penyandang tunarungu. Kemudian tahap wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan informan yang sudah ditentukan. Untuk melengkapi hasil observasi dan wawancara, peneliti melakukan dokumentasi dalam bentuk catatan, foto maupun video dari narasumber</p>
      <p id="_paragraph-28">D. Teknik Analisis Data</p>
      <p id="_paragraph-29">Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai dari konsep dari Milles dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data, dan verifikasi kesimpulan. [8] Dalam tahapan reduksi data adalah dengan cara memilih dan memilah data yang diperlukan yang harus sesuai dengan apa yang telah diteliti. Untuk penyajian data, hal yang dilakukan oleh penulis adalah memaparkan data yang telah dianggap valid. Dan yang terakhir adalah verifikasi data atau kesimpulan. Hal yang dilakukan peneliti adalah memeriksa kebenaran data kemudian ditarik kesimpulannya.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-dd976b5942eebdc75da8dc2003038951">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-31">Dari hasil penelitian yang didapatkan, komunikasi yang terjalin dalam keluarga penyandang tunarungu beranggotakan tunarungu dan normal ini juga menerapkan aspek keterbukaan <italic id="_italic-20">(openness)</italic>. Dimana anak dapat leluasa bercerita hal-hal sekecil apapun kepada orangtuanya. Seperti menceritakan video-video apa saja yang dilihatnya sendiri sewaktu tidak didampingi oleh orangtua. Begitupun yang dilakukan oleh orangtua kepada anak dan orangtua kepada kerabat dekatnya. Saling terbuka satu sama lain. Sebenarnya sama saja dengan anak dan orangtua normal lain, hanya saja cara penyampaian nya yang berbeda. Anak berpendengaran normal akan berbicara atau bercerita secara lisan sekaligus menggunakan komunikasi non-verbal.</p>
      <p id="_paragraph-32">Kemudian sikap empati <italic id="_italic-21">(emphaty)</italic> tidak hanya terdapat pada orang berpendengaran normal saja. Menurut hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, orangtua berpendengaran normal juga melakukan keterlibatan aktif gerak tubuh, memberikan sentuhan dan belaian yang sepantasnya, serta konsentrasi terpusat yang meliputi kontak mata dan kedekatan secara fisik. Orang berpendengaran normal dapat dengan mudah berkomunikasi secara verbal meskipun tanpa menatap wajah atau memperhatikan gerak bibir dari lawan bicaranya. Namun tidak dengan penyandang tunarungu. Orangtua yang tunarungu akan berkonsentrasi pada kontak mata, gerakan tubuh terutama gerak bibir dari sang anak yang berpendengaran normal pada saat mereka berkomunikasi. Anak bercerita mengenai apa yang ia lihat dalam sebuah video, orangtua secara langsung akan memperhatikan gerak bibirnya, melalui kontak mata, apa yang ditunjukkan di layar telepon genggamnya. Orangtua penyandang tunarungu akan memperhatikan dengan seksama lawan bicaranya agar ia dapat mengerti isi pesan dan bagaimana ia akan meresponnya.</p>
      <p id="_paragraph-33">Positiveness (Sikap Positif) juga ditunjukkan oleh orangtua penyandang tunarungu kepada anaknya yang berpendengaran normal. Sikap positif dalam berkomunikasi yaitu dengan menghargai orang lain, berpikiran positif terhadap orang lain, tidak menaruh curiga secara berlebihan, dan memberikan pujian dan penghargaan. Hal tersebut juga dilakukan oleh informan yang mana orangtua penyandang tunarungu memang tidak dapat mengajarkan anaknya untuk mengucapkan kata salam, tetapi mereka mengajarkan salam dalam bentuk lain yaitu dengan mencium tangan kedua orangtua sebagai bentuk menghargai orang lain.</p>
      <p id="_paragraph-34">Dan sebagai bentuk supportiveness (Saling mendukung) kerabat dekat dari pihak informan utama akan berusaha membantu ketika orangtua tidak dapat memahami maksud pembicaraan anak atau sebaliknya, mereka akan membantu menjelaskan. Sehingga komunikasi yang tadinya mendapat gangguan, maka terselesaikan ketika orang lain turut membantu memberi pemahaman pada keduanya.</p>
      <p id="_paragraph-35">Kendala Pada Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Beranggotakan Penyandang Tunarungu dan Normal. Pertama adanya kesalahpahaman dalam pemaknaan pesan yang disampaikan anak berpendengaran normal kepada orangtua penyandang tunarungu. Kedua, Orangtua penyandang tunarungu seringkali kesulitan untuk merespon pembicaraan anak dan anggota keluarga yang berpendengaran normal</p>
      <p id="_paragraph-36">Adapun upaya Mengatasi Kendala Pada Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Beranggotakan Penyandang Tunarungu dan Normal. Orangtua penyandang tunarungu akan bertanya kepada anggota keluarga terdekatnya untuk memperoleh jawaban yang benar. Anggota keluarga membantu untuk memberikan pemahaman secara verbal maupun non-verbal untuk menjelaskan ulang atas pembicaraan yang menyebabkan kesalahpahaman. Jika masih salah dalam mengartikan, anggota keluarga akan menuliskan katakata di kertas untuk membantu orangtua memahaminya. Jika anak yang tidak mengerti maksud dari pesan orangtuanya, maka anggota keluarga akan membantu memberikan pemahaman sesuai bahasa seumuran nya. Hal ini agar lebih mudah dipahami oleh anak.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d2c4a3fd665d530b402ad3a1791f8c3a">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-38">Komunikasi yang terjalin pada narasumber merupakan komunikasi interpersonal yang kompleks. [9] Dimana pada praktiknya orangtua penyandang tunarungu tetap dapat berkomunikasi dengan anaknya yang berpendengaran normal. Baik secara verbal maupun non-verbal, secara langsung maupun melalui perantara [10]. Adapun kendala yang dialami baik oleh pihak orangtua penyandang tunarungu maupun anggota keluarga berpendengaran normal, yaitu adanya kesalahpahaman dalam pemaknaan pesan dan keterlambatan <italic id="_italic-22">feedback</italic> dari pihak orangtua penyandang tunarungu. Terdapat upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala saat berkomunikasi yaitu tiap individu anggota keluarga akan saling membantu memberi pemahaman kepada siapapun yang belum memahami pesan yang diterimanya. Sehingga akan menimbulkan feedback yang baik. [11]</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>