Tourism and Hospitality Development Articles
DOI: 10.21070/ijccd.v11i0.769

Infrastructure Facilities in Tourism Village Management


Sarana Prasarana Dalam Pengelolaan Desa Wisata

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Sarana Prasarana Pengelolaan Desa Wisata

Abstract

This study aims to find out about how the infrastructure in the management of the tourist village and the constraints in the infrastructure in the management of the tourist village. This research is a qualitative descriptive study with the technique of determining informants using purposive sampling. In this study, the informants were the village head of Besur, as the hortiary sector of Besur Agro Educational Tourism, as the secretary of Besur Agro Educational Tourism and also the farmer group community. The location of this research was carried out in Besur Village, Sekaran District, Lamongan Regency. Data collection techniques are interviews, observation, documentation and literature study. The data collection technique uses Miles and Huberman which consists of four components of analysis, namely, data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. the community in supporting the running of the Besur Agaro tourism village program, education is carried out for the development of tourist villages in the agricultural and plantation sectors by taking part in the management and development of agricultural cultivation land, in this case the active participation of the Besur Village community. Furthermore, community involvement in farmer group groups supports the community participation program. With the opening of stalls around the tourist attraction area to facilitate tourists in terms of eating and drinking. Constraints faced in community participation in the management of tourist villages in Besur Village, Sekaran District, Lamongan Regency, there are problems, namely in terms of facilities and infrastructure and in terms of funding the Besur agro-educational tourism object.

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangatlah besar dan luas dan di huni oleh bermacam-macam ras, suku, etnis yang berbeda-beda dan keaneragaman wisata dan budaya di setiap daerah. Indonesia juga di sebut negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun, kekayaan alam yang ada belum bisa membebaskan negeri dari jerat kemiskinan.Perkembangan pariwisata dalam berbagai termilogiyakni seperti Sustainable tourism development, vilage tourism, ecotourism. Termilogiialah bisa dikatakan pendekatan perencanaan pengembangan kepariwisataan yang dapat menjadi wisata alternatif dan dilakukan di pedesaan bukan perkotaan[1].

Sumber : BPS Jawa Timur , 2020

Gambar 1.2 Data Pengunjung Pariwisata di Jawa Timur 2019-2020

Berdasarkan gambar 1.2 diatas menunjukkan bahwa pada Tahun 2019 sampai Tahun 2020 mengalami kenaikan jumlah pengunjung. Dari bulan Januari 2019 pengunjung wisata sebanyak 13.729 Wisman berkunjung ke Jawa timur dan pada tahun 2020 bulan Januari mengalami kenaikan menjadi sejumlah 17.047 kunjungan. Artinya jika di bandingkan dari tahun lalu peningkatam sebesar 23,6%. Namun pada bulan Februari sudah mengalami penurunan. Pada Tahun 2019 kunjungan Wisman ke Jatim mencapai 17.389 orang. Sedangkan pada tahun 2020 turun drastis hanya sekitar 11.700 Wisman[2]. Jawa Timur memiliki potensi wisata yang cukup beragam, perkembangan pariwisata Provinsi Jawa Timur berdasarkan potensi sebagai sektor pariwisata. Dorongan yang menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai Kabupaten atau Kota yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi untuk Provinsi Jawa Timur. Pelaku industri pariwisata Provinsi Jawa Timur memandang bahwa potensi yang ada di wilayahnya sangatlah banyak yang belum terjamah dengan baik, selain potensi sumber daya alam, nilai jual pariwisata juga menjadi sumber pendapatan asli daerah (Annisa, 2013).Pembangunan desa wisata sebagai suatu produk wisata dapat dikelompok kan dalam tiga kategori yakni, berpotensi, berkembang dan maju. Dalam peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2015 yaitu : Pembangunan Wisata berbasi pedesaan (desa wisata) akan menggerakan aktifitas ekonomi pariwisata di pedesaan yang akan mendorong suatu pelestarian alam yang pada giliranya akan mempunyai dampak mereduksi pemanasan global (Mustangin, 2007).[3]

Salah satu desa di Kabupaten Lamongan adalah Desa Besur, desa ini memiliki program desa dengan melibatkan lembaga baru yang baru di bentuk yakni BUMDesa di landasi oleh UU Nomor 23 Tahun 2014 yakni desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa [4]. Dan tercantum dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 11 tahun 2021 tentang BUMDesa sebagai badan hukum tidak dapat dibubarkan melainkan hanya boleh dihentikan kegiatan usahanya. Lembaga ini di bentuk oleh perangkat Desa dan di bantu oleh masyarakat Desa Besur. Wisata tersebut merupakan Wisata Besur Agro Edukasi, pengelolaan wisata dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Besur Makmur, wisata ini di bentuk oleh inisiatif kepala desa Besur yang ingin mengembangkan potensi masyarakat dalam pengelolaan wisata desa dan memberikan lahan pekerjaan baru bagi masyarakat yang membuka warung diarea lokasi wisata. Prosesnya membutuhkan dana dengan menggunakan dana yang di peroleh dari ADD Bumdes dan DD Desa Besur[5]. Perkembangan wisata besur agro edukasi berhasil dilakukan oleh pemerintah desa dan warga lokal Desa Besur. Sebelum menjadi Wisata Besur Agro Edukasi tempat ini adalah lahan seluas 2 hektar, yang pertama kali dikelola untuk dijadikan suatu objek wisata. Sedikit luas lahan persawahan yang menjadi objek wisata pertanian menjadi 5 hektar.

Proses pengolahan sawah yakni dimulai pada pertengahan tahun 2016, kemudian bulan juli tahun 2018 di lakukan penanaman bunga dan buah seperti tanaman pangan lainya mulai di tanam, dan semua pengerjaan dilakukan oleh seluruh kelompok petani yang ada di Desa Besur dan beberapa keterlibatan aparatur desa sebagai pemandu. Diresmikan pada 30 Oktober 2018 oleh Bupati Lamongan bersama dengan acara seminar dan pelatih gelar teknologi perlindungan tanaman 2018.Wisata Besur Agro Edukasi merupakan kawasan agrowisata yang terletak di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan yang didirikan oleh inisiatif pemerintah desa dan masyarakat setempat dengan melakukan pendekatan pembangunan pariwisata yang mengedepankan masyarakat lokal dengan harapan mampu menjadikan kegiatan wisata ini memberikan nilai–nilai yang memiliki manfaat besar untuk masyarakat setempat karena posisi masyarakat dalam pembentukan desa wisata menjadi bagian penting sehingga hal tersebut mampu menumbuhkan adanya rasa tanggung jawab dan sikap memiliki. Untuk masyarakat Desa Besur sepenuhnya tidak terlibat semua karenanya partisipasi masyarakat ini tidak berjalan baik dengan sepenuhnya, Keterlibatan partisipasi masyarakat hanya membantu dalam subsidi silang berupa pinjaman–pinjaman dana masyarakat yang di berikan lewat kelompok tani, berupa gapoktan serta bumdesa di dalam berbagai rangkaian prosesnya. Partisipasi tersebut dilakukan seperti mengelola sarana dan prasarana yang ada di wisata belum dilakukan secara optimal dan kontinu. Sedangkan partisipasi masarakat dan perangkat desa dalam mengatur daya tarik wisata kurang adanya kreatifitas untuk mempromosikan wisata besur agro edukasi keseluruh wisatawan. Dan sarana dan prasarana dalam wisata besur agro edukasi kurangnya ada pembenahan dan pembangunan yang lebih baik dari masyarakat dan pemerintah desa.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Kualitatif dengan pendekatan deskriptif Menurut (Nurwega, 2015), metode penelitian deskriptif kualitatif yang merupakan tahapan dalam mencari solusi dengan menyelidiki menggambarkan keadaan subyek atau berupa objek lain-lain dan berdasarkan fakta-fakta yang terlihat dan apa adanya [6]. Lokasi penelitian berada di Desa Besur Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan. Pertimbangan dalam pemilihan lokasi penelitian kareana Desa Besur merupakan salah satu desa di Kabupaten Lamongan yang menjalankan program desa wisata yakni Wisata Besur Agro Edukasi yang dikelolan oleh Bumdes dan masyarakat Desa Besur, serta terdapat permasalahan terkait partisipasi masyarakat dalam pengelolaaan desa wisata, yakni adanya masalah minimnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata besur agro edukasi selain itu kurangnya sarana dan prasarana dalam melengkapi obyek wisata dan kurangnya serta pengelolaan dalam mendukung keberlangsungan kegiatan partisipasi masyarakat desa wisata. Teknik pengumpulan data merupakan langkah utama dari penelitian yang bertujuan untuk mendaat data, dimana penelitian ini bertujuan mengambarkan keadaan yang sebenarnya atau apa adanya. Teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi Teknik penganalisisan data model interaktif Miles dan Huberman (2016)[7].

Hasil dan Pembahasan

Sarana prasara dalam pengelolaan desa wisata tentunya dapat dilihat dalam seberapa besar masyarakat desa terlibat secara langsung dalam kegiatan pengelolaan wisata besur agro edukasi dengan melibatkan kelompok tani dan para aparatur desa serta lembaga BUMDes. Perlunya keterlibatan masyarakat secara langsung dalam segi musyawarah mufakat, keterlibatan dalam penyusunan kepanitiaan pembentukan serta penetapan menjadi anggota tim pengelola desa wisata. Khusnya pada kelompok yang sadar wisata agar mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui pelaksanaan program pelatihan pengelolaan desa wisata, seperti: pelatihan bagi kelompok sadar wisata. dari partisipasi masyarakat dalam kelembagaan desa wisata dapat di jelaskan bahwa pengambilan keputusan oleh masyarakat dan aparatur Desa Besur sudah di lakukan adanya partisipasi masyarakat dengan di wakilkan oleh pihak BPD atau di sebut Badan Permusyawaratan Masyarakat. Badan inilah aspirasi masyarakat desa besur dapat di dengar kemudian dalam kelembagaanya di bentuk langsung panitia dimana tugas mereka sebagai pengawas wisata agro edukasi desa besur. keterlibatan masyarakat sangat perlu dalam melakukan perencanaan kegiatan dan selanjutnya di lakukan adanya pengambilan keputusan dimana adanya musyawarah antara para pengurus objek wisata dan masyarakat akan mendapat keputusan dan agar tidak ada lagi kesalah pahaman antara pihak sehingga dari hasil keputusan tersebut dapat di jadikan acuan pengelolaan objek Wisata Besur Agro Edukasi [8].

Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut melakukan penyusunan program kerja dan pelaksanaan proker yang suah di rencanakan serta adanya evaluasi mingguan sebagai suatu capaikan kegiatan dan pelaporan bulanan keuangan dari hasil tiket masuk objek wisata. Pengelolaan tersebut di lakukan oleh perwakilan masyarakat dalam kelompok tani dan kegiatan tersebut di lakukan secara swadaya Pengambilan keputusan pun melibatkan berbagai pihak tokoh masyarakat juga perwakilan kelompok tani sehingga dalam melakukan giatan pengelolaan jumlahnya cukup tidak kekurangan, pendampingan kegiatan pun selalu di lakukan oleh pihak aparatur Desa Besur, dan tidak dilakukan pengajian untuk pengelola objek wisata. Pembangunan Wisata Besur Agro Edukasi adalah dengan melihat kehawatiran generasi muda pertanian saat ini banyak yang lebih memilih untuk bekerja di bidang lain dibandingkan harus ikut membantu menjadi petani lokal. Wisata Agro Pertanian ini bukan hanya menawarkan pertanian saja, melainkan menyediakan kegiatan edukasi untuk para siswa siswi Sekolah Dasar agar mendapatkan Edukasi secara langsung di bidang pertanian, menawarkan tempat spot foto dan banyak gazebo yang di sediakan membuat nilai budaya dan kearifan lokal desa bisa terlihat. Para pengunjung pun dapat menikmati secara langsung mencoba praktik budidaya pada area pertanian dan perkebunan buah dan sayur, maupun tanaman hias dan bisa membeli bibit tanaman yang sudah tersedia di area pendopo wisata desa [9].

Perencanaan awal dari pemerintah desa terhadap pembangunan sarana dan prasarana seperti gapura, gedung khusus pengelolaan desa wisata, dengan melakukan beberapa pembangunan seperti Gedung spot olahraga futsal sebagai pendukung sarana tersebut. Diwujudkan jika pengelolaan yang dilakukan tidak mengalami kendala seperti kendala dari adanya pandemi dan dalam segi keuangan maupun hal lainya. Aksebilitas dan infrastruktur mendukung program desa wisata dan adanya jaminan keamanan, ketertiban, dan kebersihan tempat wisata tersebut. Dilaksanakan dengan cara memanfaatkan dengan sebaik baiknya dan sudah sepatutnya masyarakat dapat menggunakan dengan sebaik mungkin agar objek Wisata Besur Agro Edukasi tetap terjaga dan terpelihara [10]. Dengan ini para masyarakat dan pihak aparur Desa Besur memanfaatkan objek wisata dengan sangat baik dimana dalam keadaan pandemi Covid 19 tetap ada kegiatan yang dilakukan seperti pemanfaatan sarana dan prasarana yang masih tersedia, adanya pengelolaan tanaman padi organik dan juga membuka sekolah pertanian untuk masyarakat Desa Besur dengan begini asyarakat akan terlihat aktif dan ikut menjaga objek Wisata Besur Agro Edukasi. Sarana dan prasarana dalam hal ini masyarakat masih kurang terlibat adanya pandemi covid 19 mengakibatkan objek wisata besur agro edukasi mengalami penurunan pengunjung yang sangat drastic yang berakibat penurunan performa para pengelola, karena hal tersebut berbagai sarana seperti gazebo dan beberapa area spot foto mengalami kerusakan dan di katakan sudah tidak layak lagi [11].

Kendala dalam pelaksanaan sarana prasarana tentunya memilki kendala yang di hadapi dan tidak di pungkiri kendala tersebut sangat menghambat perkembangan kemajuan objek Wisata Besur Agro Edukasi dan kendala. Kegiatan partisipasi dalam pengelolaan tentunya memiliki banyak kekurangan seperti dalam saranya dan prasarana dimana imbasnya memicu sepinya pengunjung.

Minimnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Wisata Besur Agro Edukasi

Dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat tentunya memilki kendala – keendala yang di hadapi dan tidak di pungkiri kendala tersebut sangat menghambat perkembangan kemajuan objek Wisata Besur Agro Edukasi dan kendala tersebut. menjelaskan bahwa dalam kegiatan partisipasi dalam pengelolaan tentunya memiliki banyak kekurangan seperti dalam saranya dan prasarana dimana imbasnya memicu sepinya pengunjung Objek Wisata Besur Agro Edukasi karena adanya situasi pandemik saat ini banyak perencanaan yang sudah di bentuk dalam kurun waktu dua tahun terakhir tidak bisa di laksanakan karena dana yang akan di gelontorkan untuk pengelolaan di ubah kegunaanya yakni sebagai bantuan langsung tunai untuk masyarakat Desa Besur[12].

Kurangnya sarana dan prasarana dalam melengkapi obyek wisata desa seperti ( gazebo, tempat duduk, spot foto dan alat – alat perawatan wisata)

Pada dasarnya kelengkapan sarana dan prasarana sangat di butuhkan dalam menunjang keindahan objek wisata dengan begitu adanya partisipasi masyarakat dalam pembenahan sarana dan prasarana sangat di butuhkan tetapi kenyataan di lapangan untuk kegiatan seperti itu tidak di lakukan dan tidak ada pembaharuan lagi. fokus kegiatan yang dilakukan saat ini hanya melakukan budidaya tanaman padi organik dan beberapa tanaman bunga matahari dan sayuran hijau selebihnya kegiatan partisipasi masyarakat dalam pembuatan sarana dan prasarana sudah tidak dilakukan[13].

kurangnya dana pengelolaan dalam mendukung keberlangsungan kegiatan partisipasi masyarakat desa wisata

Karnanya perlunya pemasukan besar dari sumber dana agar pengelolaan mampu di jalankan sescara maksimal sesuai dengan kesepakatan awal masa pembentukan objek Wisata Besur Agro Edukasi (WBAE) Desa Besur. Dari segi sarana dan prasarana yang di suguhkan sudah tidak layak karena untuk gazebo dan segala jenis tempat spot foto sudah mengalami kerusan dan imbasnya objek wisata ini mngalami penurunan pengunjung yang cukup signifikan. . Kegiatan perbaikan tidak bisa di lakukan karena dari sumber dana pun tidak mencukupi dan dana yang sudah di anggarkan untuk perbaikan pun lebih di gunakan untuk membantu dalam hal sumbangan langsung bagi warga yang terkena imbas dalam pandemic covid 19. Penelitian ini terdapat perbedaan dengan penelitian sebelumnya dengan penelitian Nanik Hamidah, (2016) dengan judul Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Objek Wisata (Studi Kasus Objek Wisata Bukit Jamur Di Kecamatan Bungah Gersik. bahwa dalam penelitian tersebut tidak ada hubungan dengan pihak swasta dan tidak ada koordinasi yang tejalin hanya melibatkan masyarakat lokal saja [14]. Sedangkan dalam penelitian ini adanya keterlibatan pihak swasta menambah daya Tarik tambah dalam segi bantuan sarana dan prasarana sehingga pengelolaan yang dilaukan berjalan dengan baik.

Kesimpulan

Sarana prasarana dalam pengelolan Desa Wisata Besur Agro Edukasi di Desa Besur Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan, oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa partisipasi dalam kelembagaan desa wisata dilakukan dan dilaksanakan oleh para pelaksana melalui beberapa kegiatan yang sudah di terjadwal sebelumnya dan terkoordinasi antar pelaksana dadn sosialisasi berkala untuk masyarakat. Upaya yang di lakukan masyarakat dalam mendukung berjalannya program desa wisatas besur agaro edukasi dilakukan untuk berkembangnya desa wisata dalam sector pertanian dan perkebunan dengan ikut andil dalam kegiatan pengelolaan dan pengembangan lahan budidaya pertanian, selanjutnya untuk partisipasi masyarakat dalam daya tarik wisata dengan membuat beberapa trobosan dan master plan di mana dapat diartikan rencana induk dari suatu proses pengelolaan, dengan melakukan kegiatan secara swadaya dan adannya pendampingan secara langsung dari pihak aparatur Desa Besur dengan memperkenalkan kehalayak umum dengan menggunakan media massa seperti Instagram, facebook dan situs online lainya, daya tarik yang di suguhkan di objek wisata besur agro edukasi adalah hamparan perkebunan hijau yang proses penanamanya menerapkan sistem tanaman organik bebas pestisida,dengan proses penerapanya sendiri di berlangsungkan bersama dengan masyarakat Desa Besur. terbentuknya sekolah pertanian sebagai cara memperkenalkan ilmu dalam hal pertanian dan perkebunan bagi para masyarakat dan sebagai pembelajaran bagi pelajar dalam hal sektor pertanian. Dalam partisipasi masyarakat dalam sarana dan prasarana tidak terlaksana dengan baik karenanya dalam hal ini masyarakat masih kurang terlibat adanya pandemi covid 19 mengakibatkan objek wisata besur agro edukasi mengalami penurunan pengunjung yang sangat drastic yang berakibat penurunan performa para pengelola, karena hal tersebut berbagai sarana seperti gazebo dan beberapa area spot foto mengalami kerusakan dan di katakan sudah tidak layak lagi.

References

  1. Directorate of Strategic Research, Deputy for Strategic Policy, Ministry of Tourism and Creative Economy / Tourism and Creative Economy Agency in collaboration with the Indonesian Tourism Intellectuals Association (ICPI). MoU No. NK / 04 / DKS / 2021. Jurnal Kepariwisataan Indonesia : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan Indonesia (E-ISSN 2685-9076; P-ISSN 1907-9419)
  2. BPS, “Jumlah Pengunjung Pariwisata di Jawa Timur 2019-2020,” 2020. [Online]
  3. Mustangin, “ Pembangunan Desa Wisata,” 2007. [Online]
  4. UU, “Nomor 23 Tahun 2014 desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa,” 2014. [online]
  5. PP, “Nomor 11Tahun 2021 Tentang BUMDesa,”2021. [Online]
  6. Nurwega. “Penelitian Kualitatif dengan pendekatan deskriptif,” 2015. [Online]
  7. Moleong. ( 2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Redoskarya
  8. Waani, H. F. (2016). Sosial Budaya dalam Pengembangan Pariwisata di Kelurahan Bunaken Kecamatan Bunaken Kota Manado. Acta Diurna, V(2).
  9. Yoeti, A. Yoeka. (2012). Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.
  10. Fajriah, S. D. (2014). Pengembangan Sarana dan Prasarana untuk Mendukung Pariwisata Pantai yang Berkelanjutan ( Studi Kasus : Kawasan Pesisir Pantai Wonokerto Kabupaten Pekalongan ), 10(2), 218– 233.
  11. Alfath Satria Negara Syaban.2014. Analisis Kebutuhan Prasarana Dasar Permukiman Studi Kasus Kelurahan Maasin.Sripsi Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado.
  12. Raden Agusbushro..2014. Analisis Kebutuhan Prasarana Dan Sarana Pariwisata Di Kawasan Taman Nasional Bunaken Kecamatan Bunaken Kepulauan Kota Manado.Skripsi Program Studi Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Sam Ratulangi Manado .
  13. Pandit S, Nyoman. 2006. Ilmu Pariwisata. PT. Pradnya Paramita. Jakarta
  14. Spillane, J. 1994. Pariwisata Indonesia (Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan. Yogyakarta :Kanisius