Communication Development Articles
DOI: 10.21070/ijccd.v11i0.742

Prosocial Behavior of Students Using Social Media


Perilaku Prososial pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Perilaku Prososial Media Sosial Mahasiswa

Abstract

This research is motivated by the existence of prosocial behavior problems in students who use social media. This study aims to describe the prosocial behavior of students using social media at Muhammadiyah University of Sidoarjo quantitatively descriptively. The population in this study were all active students of Muhammadiyah University of Sidoarjo as many as 9943 people. The sample used is 335 people based on an error rate of 5% in the table developed by Isaac and Michael. The sampling technique used in this study is a convenience sampling technique. The data collection technique in this study used a psychological scale, namely the prosocial behavior scale in the form of a Likert scale. The result of the reliability test is 0.894. The results showed that the prosocial behavior of students using social media at Muhammadiyah University of Sidoarjo was mostly in the moderate category (64.2%) and less than half in the high category (20.3%) and in the low category (15.5%). This means that students who use social media are able to carry out prosocial behavior that can benefit and change the physical and psychological conditions of other individuals without having to get a direct benefit.

Pendahuluan

Munculnya fasilitas media sosial merupakan salah satu kemajuan dari internet yang kehadirannya sangat diminati oleh para pengguna internet. Janicke-Bowles mengatakan pemanfaatan media sosial dan rekaman online dapat menggerakkan apresiasi terhadap kehidupan sehari-hari, penghargaan, vitalitas, inspirasi prososial, dan perilaku prososial [1].

William mengemukakan perilaku prososial secara lebih rinci menjadi perilaku yang diharapkan dapat mengubah kondisi fisik atau psikologis penerima bantuan dari yang kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti material dan psikologis [2]. Salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi perilaku prososial ialah jenis kelamin. Dalam penelitian Heranari, perilaku prososial juga dipengaruhi oleh berbagai faktor karakteristik yang menggambarkan perbedaan individual antara laki-laki dan perempuan baik dari segi biologis, psikologis maupun sosiologis sehingga menghasilkan beberapa perbedaan [3]. Perilaku prososial ini merupakan sesuatu yang positif dan dapat memberikan keuntungan bagi mahasiswa, karena mereka dapat saling berbagi materi, saling mendukung dalam mengatasi masalah, serta proses yang pendewasaan dalam berhubungan dengan lingkungan. [4].

Penelitian yang telah dilakukan oleh Nugraha (2018), menyebutkan bahwa jenis perilaku prososial melalui media sosial pada mahasiswa dominan dalam menghubungi yang bersangkutan apabila bantuan yang dibutuhkan adalah sebagai masukan, saran, dukungan, informasi dan penjelasan sehubungan dengan materi atau tugas kuliah yakni dengan menghubungi via chat, voice note, telfon, video call, dan apabila membutuhkan bantuan lain dapat mengirimkan broadcast ke grup. Jenis prososial yang juga dominan dalam penelitian ini adalah jenis bantuan yang diberikan dengan cara mengunggahnya ke dalam status atau story di whatsapp, instagram, facebook, line, dan twitter.

Sementara itu dengan adanya kemajuan tekonologi yang salah satunya berupa media sosial diharapkan setiap individu terutama mahasiswa dapat lebih mudah mengetahui keadaan sosial lingkungannya sehingga perilaku prososial dapat dilakukan secara maksimal. Tetapi pada kenyataannya terdapat mahasiswa yang masih belum melakukan perilaku prososial, seperti halnya pada penelitian yang dilakukan oleh Lasmin et al (2020) yang disebutkan bahwa masih banyak mahasiswa yang mencoba mengabaikan faktor lingkungan mereka dan sangat bergantung pada media sosial. Ketidaksesuaian ini yang menjadikan mahasiswa kurang mampu dalam kompetensi sosialnya. Mahasiswa umumnya berada pada tahapan perkembangan remaja akhir yang berada antara usia 18-23 tahun [7]. Seperti yang ditunjukkan oleh Cobb, kemampuan sosial remaja mencakup tiga hal, khususnya mengamati keadaan, bagaimana orang bereaksi terhadap keadaan, kemudian bagaimana mereka membangun hubungan. Perilaku prososial diingat untuk poin kedua, lebih spesifiknya bagaimana orang bereaksi terhadap perilaku orang lain. Keterampilan sosial inilah yang dijadikan tolak ukur bagi remaja jika disukai dalam lingkungannya. Jika individu dapat berperilaku sesuai dengan asumsi untuk lingkungannya, seperti memberikan bantuan bila diperlukan, individu tersebut dapat lebih diakui dalam lingkungannya [8].

Seseorang yang mempunyai perilaku prososial yang tinggi, biasanya dia akan mempunyai hubungan yang baik dengan lingkungan di sekitarnya, peka dan peduli terhadap lingkungan, berani membuka diri serta bertanggung jawab. Oleh karena itu perilaku prososial ini sangat penting dimiliki oleh individu untuk ikut mensejahterakan kehidupan bermasyarakat, karena tindakan ini dapat menjaga keberlangsungan kehidupan antar sesama manusia. Dengan melakukan perilaku prososial, maka seseorang sudah mampu untuk membantu dan meringankan beban orang yang lebih membutuhkan pertolongan [6]. Namun perilaku prososial tersebut belum berkembang secara maksimal di lingkup mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal tersebut didasarkan pada studi pendahuluan melalui wawancara pada mahasiswa pengguna media sosial di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo bahwa mahasiswa pengguna media sosial tidak selalu melakukan perilaku prososial.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku prososial pada mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan variabel yang digunakan ialah perilaku prososial. Populasi dalam penelitian ini ialah mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang berjumlah 9.943 subjek. Berdasarkan tabel Issac dan Michael populasi dengan tingkat kesalahan 5%, maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 335 subjek. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik convenience sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian ini berupa skala psikologi yaitu skala perilaku prososial yang disusun oleh peneliti dengan memperhatikan aspek perilaku sosial menurut Mussen, dkk [9] dalam bentuk skala Likert.

Validitas aitem dilakukan melalui perhitungan statistik menggunakan Corrected item total correlation dengan bantuan program SPSS. Hasil uji coba dan analisis skala perilaku prososial yang terdiri dari 32 aitem dengan hasil total yang valid sebanyak 25 aitem dengan nilai koefisien validitas aitem 0,3014 - 0,699 yang memiliki rix (nilai hitung) ≥0,30. Sementara itu, terdapat 7 aitem yang gugur dengan koefisien validitas aitem sebesar 0,004-0,269 yang memiliki rix (nilai hitung) ≤0,30. Dan hasil uji koefisien reliabilitas pada skala perilaku prososial yang berjumlah 53 responden didapatkan hasil uji coba dengan nilai Crobach's Alpha sebesar 0,894 sehingga skala perilaku prososial dapat dinyatakan reliabel. Teknik analisis data yang diterapkan penelitian ini adalah statistik deskriptif.

Hasil dan Pembahasan

Terdapat beberapa hasil penelitian yang diperoleh peneliti mengenai perilaku prososial pada mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Pertama adalah gambaran perilaku prososial secara umum. Setelah dilakukan analisis dapat diketahui bahwa tingkat perilaku prososial seperti tabel berikut:

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Rendah 52 15.5 15.5 15.5
Sedang 215 64.2 64.2 79.7
Tinggi 68 20.3 20.3 100.0
Total 335 100.0 100.0
Table 1.Frekuensi tingkat perilaku prososial

Hasil penelitian menujukkan bahwa gambaran tingkat perilaku prososial pada mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sebagian besar dalam kategori sedang. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menujukkan bahwa mahasiswa yang memiliki perilaku prososial dalam kategori sedang mendapatkan skor persentase sebesar 64,2%, mahasiswa yang mempunyai perilaku prososial di kategori tinggi mendapatkan skor persentase sebesar 20,3% dan mahasiswa yang mempunyai perilaku prososial di kategori rendah mendapatakan skor persentase sebesar 15,5%. Asih dan Pratiwi menyatakan bahwa perilaku prososial adalah suatu jenis perilaku yang muncul dalam kontak sosial, sehingga perilaku prososial adalah suatu kegiatan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain dengan tidak memperdulikan motif-motif si penolong [10]. Dalam hal ini mahasiswa pengguna media sosial mampu melakukan perilaku prososial walaupun hanya mendapatkan informasi dari media sosial bahwa ada orang yang membutuhkan bantuan dan berusaha membantu dengan mengabaikan keuntungan langsung yang akan didapatkannya.

Setelah menjelaskan terkait hasil perilaku prososial secara umum, maka lebih dalam peneliti akan menjelaskan mengenai tingkat perilaku prososial mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berdasarkan masing-masing aspek perilaku prososial. Pertama adalah aspek menolong, yang bisa dilihat di tabel berikut:

Aspek Kategori Jumlah %
Menolong Tinggi 74 22%
Sedang 190 57%
Rendah 71 21%
Total 335 100%
Table 2.Aspek Menolong

Berdasarkan pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa perilaku prososial mahasiswa sebanyak 335 responden yang memiliki aspek menolong dengan kategori tinggi sebanyak 74 orang (22%), sebanyak 190 orang (57%) di kategori sedang, serta 71 orang (21%) di kategori rendah. Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa responden memiliki aspek menolong yang sedang. Hal ini menujukkan bahwa mahasiswa pengguna media sosial cukup memiliki perilaku untuk membantu orang lain baik dengan cara meringankan beban fisik atau psikologis orang tersebut. Menurut Eissenberg dan Mussen [12] menolong ialah kesediaan untuk bertindak pada orang lain, yang berada dalam situasi sulit termasuk membagi kepada orang lain, memberitahukan, menawarkan bantuan kepada orang lain atau menawarkan sesuatu yang mendukung aktivitas orang lain.

Berikutnya adalah aspek kedua, yakni aspek berbagi rasa, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Kategori Jumlah %
Berbagi rasa Tinggi 88 26%
Sedang 177 53%
Rendah 70 21%
Total 335 100%
Table 3.Aspek Berbagi Rasa

Berdasarkan pada tabel 4.3 terlihat bahwa perilaku prososial mahasiswa sebanyak 335 responden yang mempunyai aspek berbagi rasa dengan kategori tinggi sebanyak 88 orang (26%), sebanyak 177 orang (53%) di kategori sedang, serta 70 orang (21%) di kategori rendah. Pada aspek berbagi rasa, responden juga berada dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki cukup kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain. Ahmadi [13] menyatakan bahwa individu memanfaatkan perasaan mereka dengan efektif dalam keadaan orang lain, didorong oleh perasaan mereka seolah-olah mereka mengambil bagian dalam aktivitas yang dilakukan orang lain.

Selanjutnya aspek ketiga yakni aspek kerja sama, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Kategori Jumlah %
Kerja sama Tinggi 84 25%
Sedang 174 52%
Rendah 77 23%
Total 335 100%
Table 4.Aspek Kerja Sama

Berdasarkan pada tabel 4.4 terlihat bahwa perilaku prososial mahasiswa sebanyak 335 responden yang mempunyai aspek kerja sama dengan kategori tinggi sebanyak 84 orang (25%), sebanyak 174 orang (52%) di kategori sedang, serta 77 orang (23%) di kategori rendah. Mussen dkk [9] menyampaikan bahwa kerja sama adalah melaksanakan pekerjaan atau aktivitas bersama yang tergantung pada kesepakatan atau pencapaian tujuan bersama. Pada aspek kerja sama, responden memiliki kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo cukup memilih untuk melaksanakan pekerjaan atau aktivitas secara bersama-sama meskipun mereka mungkin saja mampu untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan tersebut secara mandiri.

Berikutnya aspek keempat yakni aspek menyumbang, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Kategori Jumlah %
Menyumbang Tinggi 91 27%
Sedang 152 45%
Rendah 92 27%
Total 335 100%
Table 5.Aspek Menyumbang

Berdasarkan pada tabel 4.5 terlihat bahwa perilaku prososial mahasiswa sebanyak 335 responden yang mempunyai aspek menyumbang dengan kategori tinggi sebanyak 91 orang (27%), sebanyak 152 orang (45%) di kategori sedang, serta 92 orang (27%) di kategori rendah. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa responden memiliki aspek menyumbang yang sedang. Dalam hal ini, mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo cukup memilih untuk bersikap murah hati kepada orang lain baik berupa materi maupun tenaga dan pikiran. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bashori (2017), bahwa menyumbang berarti bersikap murah hati kepada orang lain, membantu tenaga dan pikiran, menawarkan sesuatu kepada individu yang tertimpa musibah, merupakan perilaku prososial yang sering dijumpahi dalam kehidupan masyarakat.

Selanjutnya aspek kelima yakni aspek memperhatikan kesejahteraan orang lain, yang bisa dilihat di tabel berikut:

Aspek Kategori Jumlah %
Memperhatikan Kesejahteraan orang lain Tinggi 85 25%
Sedang 193 58%
Rendah 57 17%
Total 335 100%
Table 6.Aspek Memperhatikan Kesejahteraan Orang Lain

Berdasarkan pada tabel 4.6 terlihat bahwa perilaku prososial mahasiswa sebanyak 335 responden yang mempunyai aspek memperhatikan kesejahteraan orang lain dengan kategori tinggi sebanyak 85 orang (25%), sebanyak 193 orang (58%) di kategori sedang, serta 57 orang (17%) di kategori rendah. Pada aspek memperhatikan kesejahteraan orang lain, responden termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo cukup memiliki rasa peduli terhadap orang lain, mereka berusaha dan tidak enggan membantu orang lain untuk meringankan bahkan menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Menurut Mussen dkk [15], mempertimbangkan kesejahteraan orang lain yaitu memberikan sarana kepada orang lain untuk mendapatkan kemudahan atau kenyamanan dalam segala urusan, punya kepedulian terhadap orang lain dengan memperhatikan dan menghiraukan masalah orang lain.

Gambar 4.1

Diagram Batang Aspek Perilaku Prososial

Berdasarkan pemaparan masing-masing aspek diatas, dapat ditarik kesimpulan rata-rata tingkat perilaku prososial seperti pada gambar 4.1. Aspek tertinggi yaitu berbagi rasa dengan nilai rata-rata 19,60. Aspek menolong dengan nilai rata-rata 19,4, aspek memperhatikan kesejahteraan orang lain dengan nilai rata-rata 18,70 dan aspek kerja sama dengan nilai rata-rata 12,82 serta aspek menyumbang dengan nilai rata-rata 9,34.

Setelah menjelaskan tingkat perilaku prososial mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berdasarkan masing-masing aspek perilaku prososial, selanjutnya peneliti akan memaparkan perilaku prososial mahasiswa berdasarkan jenis kelamin. Peneliti memaparkan perilaku prososial mahasiswa berdasarkan jenis kelamin yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Jenis Kelamin Kategori Jumlah %
Laki-laki Tinggi 16 19%
Sedang 52 62%
Rendah 16 19%
Total 84 100%
Perempuan Tinggi 43 17%
Sedang 167 67%
Rendah 41 16%
Total 251 100%
Table 7.Perilaku Prososial Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tebel 4.7 dapat diketahui perilaku prososial mahasiswa sebanyak 335 mahasiswa dengan responden jenis kelamin laki-laki sebanyak 84 responden dan perempuan sebanyak 251 responden, bahwa responden laki-laki memiliki perilaku prososial tinggi sebanyak 16 (19%), perilaku prososial dengan kategori sedang sebanyak 52 (62%), dan perilaku prososial dengan kategori rendah sebanyak 16 (19%). Sedangkan responden perempuan memiliki perilaku prososial tinggi sebanyak 43 (17%), perilaku prososial dengan kategori sedang sebanyak 167 (67%), dan perilaku prososial dengan kategori rendah sebanyak 41 (16%).

Berdasarkan pemaparan tingkat perilaku prososial berdasarkan masing-masing jenis kelamin diatas, selanjutnya peneliti memaparkan tingkat perilaku prososial berdasarkan jenis kelamin secara keseluruhan. Berikut merupakan diagram batang dari hasil perolehan rata-rata keseluruhan perilaku prososial berdasarkan jenis kelamin:

Gambar 4.11

Perilaku Prososial Berdasakan Jenis Kelamin

Jika ditinjau dari jenis kelamin, ada persamaan antara mahasiswa yang berjenis kelamin laki-laki dengan mahasiswa yang berjenis perempuan dimana disebutkan pada hasil perhitungan tingkat perilaku prososial berada pada kategori sedang dengan skor persentase pada mahasiswa laki-laki ialah 62% dan pada mahasiswa perempuan 67%. Tetapi dalam hal ini bukan berarti menunjukkan adanya perbedaan tinggi rendahnya tingkat perilaku prososial, melainkan adanya perbedaan pada bentuk perilaku prososial antara laki-laki dan perempuan. Meinarno & Sarwono (2018) menyebutkan bahwa peranan gender pada kecenderungan individu untuk membantu sangat tergantung pada keadaan dan jenis bantuan yang diperlukan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Dayaksini & Hudainah (2012) yang mengungkapkan bahwa pria lebih mungkin dibandingkan wanita untuk memberikan bantuan dalam situasi heroik atau situasi-situasi yang menuntut resiko, sementara wanita lebih mungkin daripada pria untuk memberikan bantuan dalam keadaan yang membutuhkan perawatan, perhatian, dan dukungan emosional.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diberi kesimpulan bahwa perilaku prososial pada mahasiswa pengguna media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sebagian besar dalam kategori sedang (64,2%), serta kurang dari setengah dalam kategori tinggi (20,3%) dan dalam kategori rendah (15,5%). Artinya mahasiswa pengguna media sosial mampu melakukan perilaku prososial walaupun hanya mendapatkan informasi dari media sosial bahwa ada orang yang membutuhkan bantuan dan berusaha membantu dengan mengabaikan keuntungan langsung yang akan didapatkannya.

References

  1. E. L. Hartanti and I. Sugiasih, “Hubungan Antara Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Prososial Pada Siswa Smk Negeri 1 Pakis Aji Jepara,” Pros. Konf. Ilm. Mhs. UNISSULA 2, vol. 4, no. 3, pp. 713–720, 2019.
  2. T. Dayaksini and Hudainah, Psikologi Sosial. Malang: UMM Press, 2012.
  3. S. Renata and L. N. Parmitasari, “Perilaku Prososial Pada Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin Dan tipe kepribadian,” J. Prikodimensia, pp. 24–39, 2016.
  4. M. D. Prasetyo, “Hubungan antara Nomophobia dan Prososial pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang,” Universitas Muhammadiyah Malang, 2017.
  5. A. A. D. Nugraha, “Perilaku Prososial Melalui Media Sosial,” Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2018.
  6. D. A. Lasmin, R. A. P. Rini, and P. Nindia, “Korelasi Antara Intensitas Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Prososial di Kalangan Mahasiswa,” Sukma J. Penelit. Psikol., vol. 1, no. 02, pp. 131–141, 2020.
  7. J. w Santrock, Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas. Jakarta: Erlangga, 2012.
  8. D. A. Pitaloka and A. Ediati, “Rasa Syukur Dan Kecenderungan Perilaku Prososial Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro,” Empati J. Karya Ilm. S1 Undip, vol. 4, no. 2, pp. 43–50, 2015.
  9. H. F. Nashori, Psikologi Sosial Islami. Bandung: PT Refika Aditama, 2008.
  10. R. V. A. Tina, “Hubungan Antara Kedemokratisan Pola Asuh dengan Perilaku Prososial Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,” Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2012.
  11. E. A. Meinarno and S. W. Sarwono, Psikologi Sosial, 2nd ed. Jakarta: Salemba Humanika, 2018.
  12. P. Wijayanti, “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Terhadap Perilaku Prososial Pada Siswa Smk Negeri 8 Semarang,” Universitas Negeri Semarang, 2019.
  13. I. Kurnila, “Perilaku Prososial Relawan Yayasan Ummi Fadhilah Surabaya,” Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2013.
  14. K. Bashori, “Menyemai Perilaku Prososial di Sekolah,” Sukma J. Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 57–92, 2017.
  15. A. Sisno, “Hubungan Antara Gratitude Dengan Perilaku Prososial Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya,” Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2017.