Community Education Development Articles
DOI: 10.21070/ijccd.v14i2.975

Enhancing Deradicalization Preaching Through Literacy and Technology: A Training and Media Approach


Meningkatkan Dakwah Deradikalisasi Melalui Literasi dan Teknologi: Pendekatan Pelatihan dan Media

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Deradicalization Da'i Agents of Peace Muhammadiyah Technology-driven Da'wah Literacy Enhancement

Abstract

This scientific article presents an innovative approach to strengthening deradicalization efforts, focusing on the role of Da'i Agents of Peace empowered by Muhammadiyah. The study's objectives encompass the cultivation of three key deradicalization programs: nurturing individual development, fostering self-reliance, and providing sustained preventive guidance. Addressing the dearth of qualified preachers adept in classical interpretive and hadith literature, the research underscores the urgency of enhancing human resources capabilities. The intervention revolves around two primary initiatives: immersive workshops elucidating polar fathul at tafsir and technology-driven hadith comprehension, alongside facilitation in crafting technology-based da'wah content. This article highlights the outcomes of these initiatives, emphasizing amplified literacy skills and heightened understanding of hadith interpretations as pivotal achievements. The implications extend to the enrichment of deradicalization strategies and the broader potential for technology-enhanced religious outreach.

Highlight:

  • Innovative Approach: This article introduces a novel method for enhancing deradicalization efforts, focusing on the pivotal role of Da'i Agents of Peace under Muhammadiyah's empowerment.
  • Multi-Faceted Objectives: The study aims to nurture personal development, foster self-reliance, and provide continuous preventive guidance as integral components of deradicalization programs.
  • Human Resources Enhancement: The research underscores the pressing need to bolster the capabilities of preachers in classical interpretive and hadith literature, advocating for improved human resources strategies.

Keyword: Deradicalization, Da'i Agents of Peace, Muhammadiyah, Technology-driven Da'wah, Literacy Enhancement

Pendahuluan

Fathul kutub adalah sebuah kegiatan membaca dan menelaah kitab (khususnya kitab klasikal) yang biasanya diberikan kepada santri paling maju di pesantren. Sebagai metode, Fathul kutub bertujuan untuk menguji kemampuan santri membaca buku kuning. Dengan kata lain Fathul kutub adalah sebuah metode pembelajaran yang memperbaharui kompetensi santri khususnya dalam menguasai kaidah bahasa arab, disamping prinsip-prinsip agama lain yang relevan dengan tema kitab. Adapun kitab tersebut membahas terkait berupa akidah, fikih, hadis, tafsir, tasawuf dan lain-lain. Metode Fathul Ekstrim biasanya dikhususkan untuk santri yang akan menyelesaikan studinya di pesantren. Dengan mempelajari kitab dengan metode fathul kutub diharapkan santri yang telah lulus dapat menjadi penceramah atau dai yang senantiasa dapat berdakwah di segala medan[1].

Da’i adalah seseorang yang mengajak orang lain untuk menyeru kepada hal yang baik dan mecegah hal-hal yang munkar secara langsung maupun tidak langsung. Media yang digunakan dalam da’i untuk mengajak orang lain dapat melalui lisan, tulisan atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran islam atau menyebarkan agama islam secara luas[2]. Pada era saat ini perkembangan teknologi sangat berkembang dengan pesat. Para da’i sebagai penyebar dakwah amar ma’ruf nahi munkar dapat menggunakan media teknologi sebagai sarana dakwah[3]. Pada saat ini banyak sekali pergerakan berupa kelompok pendakwah yang kebanyakan didominasi anggotanya oleh anak muda sebagai da’i yang senantiasa berdakwah menyebarkan ajaran agama islam. Salah satu contoh kelompok da’i tersebut adalah da’i perdamaian.

Tugas utama Da’i Agen Perdamaian yang sedang digencarkan Muhammadiyah adalah dakwah deradikalisasi. Melalui program tersebut, Muhammadiyah berharap besar pada seluruh da’i untuk dapat melaksanakan tiga program besar dalam melaksanakan konsep deradikalisasi, yakni; pembinaan kepribadian, pembinaan kemandirian, dan pembinaan preventif berkelanjutan. Tiga program besar itu dapat dicapai melalui tiga strategi yaitu pengelolaan kelembagaan, dukungan dari berbagai pihak, dan program peningkatan kapasitas dakwah mencakup adaptasi materi deradikalisasi, kemampuan penelusuran sumber materi, metode dan strategi dakwah, serta keberagaman sasaran dakwah di Indonesia[4].

Selain permasalahan tersebut, pengaruh perkembangan teknologi yang begitu pesat terhadap semua lini kehidupan masyarakat, perlu juga mendapat perhatian khusus dalam upaya mengembangkan strategi dakwah. Kedekatan masyarakat terhadap teknologi harus dipertimbangkan sebagai salah satu faktor dalam menentukan model dakwah. Tantangan dakwah di tengah perkembangan teknologi informasi menjadi lebih kompleks. Untuk itu, da’i dituntut piawai menyampaikan dakwahnya melalui media yang sangat dekat dan diminati masyarakat, yaitu media sosial, agar dakwah dapat efektif dan efisien[5]. Media sosial adalah media online dimana para penggunanya melalui apilasi dapat berbagi,mendapatkan dan menciptakan konten berupa blog, vlog dan jejasring sosial lainnya didunia virtual karena disokong dengan adanya teknologi yang maju. Dengan adanya media tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyearkan ajaran islam melalui Gerakan dakwah sosial media[6].

Salah satu media dakwah yang dinilai efektif untuk digunakan da’i di era teknologi informasi adalah seperti internet, Facebook, WhatsApp dan media social. Kecanggihan teknologi pun dapat dimanfaatkan da’i untuk mengembangkan materi dakwahnya sesuai kebutuhan, namun dengan tetap waspada dan bijak dalam memilah dan memilih sumber yang digunakan[7]. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa Da’i Perdamaian di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gedeg Kabupaten Mojokerto belum memiliki kemampuan dalam pemahaman kitab tafsir dan hadist klasik. Selain itu belum tersedianya teknologi yang dapat memfasilitasi dakwah seperti media sosial dan sebagainya.

Minimnya mubaligh yang memiliki kualifikasi pemahaman kitab-kitab klasik dalam bidang tafsir dan hadis ini perlu ditanggulangi, diantaranya adalah dengan meningkatkan kualitas SDM mubaligh termasuk dalam pemahaman literatur kitab klasik. Pemahaman literatur dan cara membuka literatur kitab klasik ini sangat penting, karena khazanah keilmuan berkaitan dengan ulum ad diniyah ada di sana[8]. Jika kondisi ini tidak diatasi khawatir dalam beberapa tahun ke depan akan sangat minim mubaligh yang bisa membuka dan menyampaikan terkait pokok-pokok ajaran Islam yang semua ada dalam kitab klasik. Selain itu, da’i dan mubaligh juga dituntut melek teknologi, tidak hanya sebagai media dakwah, namun juga sebagai sumber literatur dan memperkaya wawasan kemasyarakatan yang menjadi sasaran dakwahnya. Dengan demikian, penyiapan kader mubaligh yang mampu membaca sumber primer referensi Islam serta melek teknologi menjadi sangat perlu terutama di kalangan mubaligh muda Muhammadiyah yang nantinya mereka berperan dalam meneruskan estafet dakwah perdamamian Muhammadiyah[9].

Metode

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan Pelatihan Peningkatan Pemahaman Fathul Kutub At Tafsir dan Hadist Berbasis Teknologi Untuk Da’i Perdamaian Muhammadiyah Gedeg, dilaksanakan di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto yang berlokasikan tepat di Jl. H.Nurhasyim No. 8 Gedeg Mojokerto. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 18 Maret 2023.

Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu:

A. Tahap Persiapan

Tahap ini bertujuan untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan. Beberapa sub kegiatan yang ini adalah:

  1. Berkoordinasi dengan mitra terkait jadwal, bentuk dan tempat kegiatan.
  2. Menyusun materi workshop yang terdiri dari materi cara membuka dan memahami kitab tafsir dan hadist klasik, dan materi pemanfaatan teknologi untuk dakwah.

B . Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini akan dilaksanakan beberapa kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu:

1) Workshop

Kegiatan ini dilakukan dengan mengundang peserta da’i di lingkungan PCM Gedeg dengan waktu dan tempat yang disepakati dengan pihak mitra.

2) Pendampingan pembuatan media dakwah berbasis teknologi

Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara mendampingi PCM membuat akun media sosial Facebook atau media lain sesuai potensiyang dimiliki PCM serta cara memposting tulisan atau konten dakwah.

C. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi akan dilakukan dalam dua bentuk, yaitu:

a. Evaluasi berbasis kegiatan.

Evaluasi ini dilakukan pada kegiatan workshop yaitu melalui pre test berupa praktek membuka kitab tafsir hadits, serta post test bagi seluruh peserta workshop dengan cara praktek berupa pemberian tugas menemukan jawaban dari permasalahan materi dakwah yang diberikan oleh pemateri dalam kitab tafsir dan hadits. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketrampilan peserta workshop terhadap materi yang diberikan oleh pemateri. Evaluasi kebermanfaatan. Evaluasi ini akan dilakukan di akhir kegiatan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kebermanfaatan kegiatan pengabdian masyarakat pada mitra. Evaluasi ini juga digunakan dasar untuk menentukan kegiatan selanjutnya sebagai bentuk keberlanjutan program. Evaluasi kebermanfaatan dilakukan dengan cara wawancara dan pengisian kuisioner oleh mitra yaitu PCM dan peserta workshop. Pertanyaan kuisioner yaitu kesan pesan mengenai kegiatan, serta kritik saran dan tindaklanjut yang dibutuhkan mitra

Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pelatihan peningkatan pemahaman fathul kutub at tafsir dan hadist berbasis teknologi untuk da’i perdamaian muhammadiyah gedeg secara garis besar terdapat 2 kegiatan utama. Pertama, workshop pelatihan pemahaman fathul kutub at tafsir dan hadist berbasis teknologi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan 2 ahli yakni Ustadz Khoiri dan Ustadzah Anis Farihah. Kegiatan ini dilakukan dengan mengundang peserta da’i di lingkungan PCM Gedeg yang berjumlah 20 orang dengan waktu dan tempat yang disepakati dengan pihak mitra. Kegiatan workshop dilaksanakan selama 2 hari, yaitu hari pertama workshop fathul kutub beserta prakteknya. Hari kedua, yaitu workshop pemanfaataan teknologi untuk dakwah, mencakup teknik penelusuran referensi dakwah berupa kitab-kitab rujukan primer secara online, seperti maktabah syamilah. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 18-19 Maret 2023. Kegiatan dilaksanakan dengan antusiasme tinggi dari peserta, yang dihadiri 20 orang sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 1.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan sebuah evaluasi. Evaluasi yang dilakukan pada kegiatan workshop yaitu melalui pre test berupa praktek membuka kitab tafsir hadits, serta post test bagi seluruh peserta workshop dengan cara praktek berupa pemberian tugas menemukan jawaban dari permasalahan materi dakwah yang diberikan oleh pemateri dalam kitab tafsir dan hadits. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketrampilan peserta workshop terhadap materi yang diberikan oleh pemateri sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 2 dibawah.

Figure 1.Gambar (Atas). Diagram Respon Peserta Terhadap Kegiatan, Gambar (Bawah). Diagram Pemahaman Peserta Terhadap Materi Yang Disampaikan

Kedua,kegiatan selanjutnya yakni pendampingan pembuatan media dakwah berbasis teknologi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara mendampingi PCM membuat akun media sosial Facebook atau media lain sesuai potensi yang dimiliki PCM serta cara memposting tulisan atau konten dakwah. Pada saat ini perkembangan teknologi dan informasi sangat berkembang pesat. Setiap orang dari usia anak-anak sampai dengan dewasa pasti memiliki sebuah perangkat teknologi yang dapat untuk mengakses informasi. Salah satu sarana untuk mendapatkan informasi melalui telephon yakni melalui media sosial atau sosmed. Media sosial menjadi salah satu sarana untuk bertukar informasi. Informasi yang ada pada media sosial sangat beragam. Keberagaman informasi yang ada di media sosial menyangkut banyak hal diantaranya ada yang menunjukkan indikasi negative kepada pembacanya dan dapat merusak moral serta pola pikir pembacanya[10]. Selain itu ada juga informasi yang positif yang mengarah pada suatu kebenaran. Atas dasar keberagaman informasi inilah yang menjadi dasar pembuatan akun media sosial untuk PCM Gedeg.

Tujuan dari dibutnya akun media sosial PCM Gedeg yakni untuk menangkal informasi-informasi yang mengandung unsur negative. Dengan memposting tulisan atau video yang berisikan kegiatan positif atau kajian dakwah dirasa dapat memberikan kesan yang positif kepada pembaca. Harapan dengan adanya media sosial ini PCM Gedeg lebih aktif dalam berdakwah melalui media sosial.

Simpulan

Program pengabdian Masyarakat ini merupakan sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan literasi dan pemahaman terhadap tafsir hadist. Kegiatan ini dilaksanakan melalui 2 program utama yakni dengan mengadakan workshop pelatihan pemahaman fathul kutub at tafsir dan hadist berbasis teknologi. Program kedua yakni dengan pendampingan pembuatan media dakwah berbasis teknologi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara mendampingi PCM membuat akun media sosial Facebook atau media lain sesuai potensi yang dimiliki PCM serta cara memposting tulisan atau konten dakwah.

References

  1. I. Baharuddin, “Pesantren Dan Bahasa Arab,” J. Thariqah Ilm., vol. 01, no. 01, pp. 16–30, 2014.
  2. A. Salim, “Peran Dan Fungsi Dai Dalam Perspektif Psikologi Dakwah,” Al-Hikmah Media Dakwah, Komunikasi, Sos. dan Kebud., vol. 8, no. 1, pp. 92–107, 2018, doi: 10.32505/hikmah.v8i1.401.
  3. Nashrillah MG, “AKTUALISASI DAKWAH DAI MILLENNIAL DI RUANG MAYA: Perspektif Etika Dakwah Dengan Studi Kasus Di Kota Medan,” J. Ilm. Islam Futur., vol. 18, no. 1, pp. 105–126, 2018.
  4. L. A. Wahab, “DERADIKALISASI DAKWAH : OPTIMALISASI PERAN DA ’ I DALAM MEMBANGUN KARAKTER MULTIKULTUR MELALUI PENGUATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN Laode Abdul Wahab Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Kendari abdulwahablaode @ gmail . com Nur Alim Institut Agama Islam Neger,” vol. 6, no. 2, pp. 354–378, 2020.
  5. S. Halim, B. A. Adawiyah, and L. A. Gafar, “Pengaruh Teknologi Komunikasi Terhadap Perkembangan Dakwah ‘Tantangan dan Manfaat,’” J. Manaj. Dakwah, p. 70, 2020, [Online]. Available: https://www.google.com/search?q=PENGARUH+TEKNOLOGI+KOMUNIKASI+TERHADAP+PERKEMBANGAN+DAKWAH+“TANTANGAN+DAN+MANFAAT”&sxsrf=AJOqlzX9VxflSxGVgvNqJPcscR7MDuApbg%3A1674978256066&ei=0CPWY-TQA5qrz7sPltOPiAY&ved=0ahUKEwjk-NWfpOz8AhWa1XMBHZbpA2EQ4dUDCA4&uact=5&oq=P
  6. E. Sumadi, “Dakwah dan Media Sosial: Menebar kebaikan tanpa diskrimasi,” J. Komun. Penyiaran Islam, vol. 4, no. 1, pp. 173–190, 2016, [Online]. Available: http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/komunikasi/article/viewFile/2912/2083
  7. Ritonga, “2019 R Ritonga komunikasi dakwah zmn milenial,” pp. 60–77, 2019.
  8. P. O. Irianto and L. Y. Febrianti, “Pentingnya Penguasaan Literasi Bagi Generasi Muda Dalam Menghadapi Mea,” Conf. Proc. Cent. Int. Lang. Dev. Unissula, pp. 640–647, 2017, [Online]. Available: http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/ELIC/article/view/1282
  9. S. M. Riharsya1, Z. Aqila2, S. S. Bagaskara3, M. Khaerul, and Muttaqien, “Penyuluhan Literasi Dakwah Digital Bagi Kalangan Milenial Muslim,” Pros. Semin. Nas. Pengabdi. Masy. LPPM UMJ, p. 6, 2021.
  10. A. M. Burhanudin, Y. Nurhidayah, and U. Chaerunisa, “DAKWAH MELALUI MEDIA SOSIAL (Studi Tentang Pemanfaatan Media Instagram @ cherbonfeminist Sebagai Media Dakwah Mengenai Kesetaraan Gender),” J. Dakwah dan Komun., vol. 10, no. 2, pp. 236–246, 2019, [Online]. Available: https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/orasi/article/view/5658