Communication Development Articles
DOI: 10.21070/ijccd.v13i0.844

The Communication Network Pattern of the Tourism Merchant Association in Disseminating New Normal Information


Pola Jaringan Komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata dalam Penyebaran Informasi New Normal

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Communication Network New Normal Opinion Leader

Abstract

The new normal is a new policy implemented by the government in collaboration with the Pecalukan Tourism Trade Association to reduce the number of soaring COVID-19 cases. This ongoing transition towards a new normal is an implication of various policies and regulations during the COVID-19 emergency response period. The purpose of this study was to determine the pattern of communication networks formed in the association in disseminating information. This study uses descriptive quantitative research methods with communication network analysis techniques, while the sampling technique is the snowball sampling technique. Data collection techniques using questionnaires through interviews. The research is the first pattern of communication network structure that is formed by communication networks of all channels. The two roles of the communication structure are as follows: Click, Gate Keeper, Bridge, and Opinion Leader. The three communication networks were found by 4 clicks. There are 7 opinion leaders in the communication network who have an important role in influencing and increasing the participation of community members.

Pendahuluan

Penelitian ini berkaitan dengan pola jaringan komunikasi dalam penyebaran informasi tentang new normaldi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan di wisata Tretes, Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana anggota paguyuban mendapatkan informasi tersebut secara sistematis, siapa pemberi informasi, apakah masyarakat disana menerapkan informasi yang mereka dapatkan, dan apakah ada perubahan setelah mendapatkan informasi yang terkait dengan penyebaran informasi tentang newnormal.

COVID-19 yang sedang melanda dan membuat dunia tidak lagi sama, Banyak hal yang terjadi akibat pandemic diantaranya adanya perlaihan yang melahirkan norma dan praktik baru dalam tatanan sosial, ekonomi dan politik; baik pada level individu, komunitas, kelembagaan, dan hubungan antarbangsa.

Pandemi telah menghentikan hampir secara total aktivitas sosial perekonomi diseluruh dunia akibat paparan COVID-19. (Organisasi Kesehatan Dunia Media Briefing, 22 April 2020). Berbagai upaya dilakukan dalam rangka menormalisasi kehidupan social dan ekonomi yang mengalami penurunan akibat paparan COVID-

19. New Normal merupakan transisi kehidupan social agar dapat berdampingan hidup normal dengan COVID-19 selama masa pandemi dan pasca pandemi. New Normal menjadi sebuah keniscayaan untuk menormalisasi kehidupan social dan aktifitas ekonomi.

Pemerintah pusat dalam menjalankan newnormalmelibatkan semua pihak terkait termasuk tokoh masyarakat, para ahli pakar kesehatan dan epidemologi untuk merumuskan protokol atau SOP untuk meyakinkan masyarakat dapat beraktivitas kembali namun tetap aman dari COVID-19. Protokol ini digunakan dalam berbagai sektor diantaranya pendidikan, keagamaan, ekonomi, jasa dan perdagangan, tentunya tergantung pada aspek epidemologi dari masing-masing daerah, sehingga penambahan kasus positif dapat ditekan. [1]

Analisis hasil survey dampak COVID-19 yang dilakukan oleh BPS (Badan pusat statistika) menjelaskan bahwasannya COVID-19 berdampak besar terhadap 3 sektor usaha, sektor usaha tertinggi yang terdampak yaitu sektor akomonasi dan makan minum dengan presentase 92,47%, hal ini lebih tinggi dibandingkan dengan sektor jasa lainnya dengan presentase 90,90% dan sektor trasportasi dan pergudangan dengan presentase 90,34%, dengan tingginya dampak yang terjadi diharapkan beberapa lembaga dan instansi dapat membantu mengontrol angka lonjakan yang terjadi dengan menerapkan kebijakan dari pemerintah pusat. [2]

Pemerintah Pusat melalui Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada 20 Mei 2020, menerbitkan surat edaran nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang protokol kesehatan yang ditujukan bagi Pimpinan Kementerian Pembina Sektor Usaha, Gubernur dan Bupati/Wali Kota di seluruh Indonesia. Edaran tersebut mengatur tatanan baru dalam rangka mencegah penularan COVID-19 yang berlaku di tempat kerja tempat kerja, pelaku usaha, pekerja, pelanggan/konsumen dan masyarakat yang terlibat pada sektor jasa dan perdagangan (area publik) dimana terdapat potensi penularan Covid-19 akibat berkumpulnya sejumlah atau banyak orang dalam satu lokasi.

Mendukung program new normal yang dicanangkan pemerintah, Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan yang di pelopori oleh Bapak Tosim selaku ketua selalu menyampaikan berbagai informasi mengenai new normalkeseluruh anggota paguyuban. Pak Tosim mengatakan

“Untuk mewujudkan dan mensukseskan program pemerintah membutuhkan sebua proses interaksi antar seluruh anggota paguyuban, informasi yang saya sampaikan biasanya kita melakukan rapat singkat, atau himbauan dari group whatsapp yang sudah ada, serta agar program ini dapat berjalan dengan baik dibutuhkan kesadaran dari masing-masing anggota paguyuban.” [3]

Pelaksanaan program new normaldari pemerintah membawa pro dan kontra terhadap pelaku usaha, diantaranya pelaku usaha di Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan, hal tersebut dituturkan oleh salah satu anggota dari paguyuban yaitu ibu Titik, beliau menuturkan

“Dengan diberlakukan program new normal di kawasan tersebut dari negatifnya membuat sistem perekonomiannya terganggu, beliau juga mempunyai cicilan dari cicilan bank, maupun SPP sekolah dari anaknya yang setiap bulan harus melakukan pembayaran. Dengan keadaan demikian sehingga mau tidak mau dagangannya harus tetap berjalan sehingga dapat membatu perekonomian yang sempat menurun. Sedangkan dari segi positifnya dapat menekan angka melonjaknya kasus positif di Indonesia sehingga kedepannya kita dapat dapat hidup dengan normal tanpa ketakutan akan COVID- 19. [4]

Kesadaran masyarakat dalam penerapan new normal membuat kasus COVID-19 mengalami menurunan yang signifikan terbukti mulai 1 Oktober 2021 Jawa Timur terbebas dari zona merah atau daerah dengan resiko tertinggi penularan COVID-19, Kabar tersebut disampaikan oleh juru bicara Rumpun Kuratif Satgas Penenganan COVID-19 di Jawa Timur, Dr Makhyan Jibril Al-Faribi menuturkan “Alhamdulillah perharini 38 kota dan kabupaten di Jawa Timur dinyatakan bebas dari zona merah atau resiko penyebaran tertinggi COVID-19”. [5]

Program Newnormaldapat dikatakan signifikan pengimplikasiannya karena anggota paguyuban mendapatkan tambahan pengetahuan terkait dengan pentingnya untuk memberlakukan hidup bersih dan sehat, utamnya tetap memakai masker saat keluar rumah, memakai hand sanitaizer, mencuci tangan, serta menjaga jarak saat berada di kerumunan. Meskipun perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu yang cepat dan serentak. Dari beberapa penjelasan diatas menjadi alasan peneliti untuk mengetahui pola jaringan komunikasi di dalamya.

Dari pemaparan diatas bahwa informasi new normal dapat menyebar dengan baik adanya partisipasi disemua anggota Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan. Penelitian terdahulu oleh Ainun Jariyah (2018) menunjukkan bahwasannya Pola struktur jaringan komunikasi yang terbentuk dalam Program Desa Melangkah adalah struktur jaringan komunikasi semua saluran atau menyeluruh. Bentuk jaringan komunikasi ini, berarti semua anggota mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi anggota lainnya, meskipun bentuk jaringan komunikasi semua saluran, namun tetap terdapat peran pemuka pendapat akibat pilihan pasangan hubungan komunikasi yang dipilih. Hasil analisa yang dilakukan pada struktur komunikasi, diketahui bahwa dalam jaringan komunikasi Program Desa Melangkah di Desa Kenongo, terdapat peran klik, pemuka pendapat, bridge,dan cosmopolite. Klik dalam jaringan komunikasi Program Desa Melangkah terbentuk sebanyak 6 klik, individu dalam setiap klik mempunyai peran untuk mempengaruhi dan menyampaikan informasi ke dalam ataupun ke luar klik. [6]

Penelitian lain oleh Ahmad Rosidi dan Edy Nurcahyono (2020) menunjukkan bahwasannya aturan yang dibuat Pemerintah tentang New normal di Indonesia yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 pada Situasi Pandemi yang melanda dunia termasuk indonesia saat ini masih belum memiliki kejelasan terkait tentang peraturan Pemerintah yang mengatur secara jelas karena PP Nomor 21 Tahun 2020 yang mengatur tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tidak mengatur secara menyeluruh tentang penerapan New normal (Kenormalan Baru) sehingga peraturan tersebut tidak memiliki payung hukum yang kuat, begitu pula dengan penduduk Indonesia yang saat ini diperkirakan mencapai 267.7 juta sangat membutuhkan kejelasan dari pemerintah terkait dengan peraturan yang disediakn oleh pemerintah, sehingga seharusnya DPR dan Presiden harus segera membuat peraturan tentang tentang penerapan New normal yang bisa dijadikan pegangan dalam penerapan Newnormaldi saat ini. [7]

Informasi dalam menjalankan program new normal yang dijalankan tentunya ada peran individu yang dianggap penting sebagai sosok yang mampu mempengaruhi anggota masyarakat lainnya. Peranan seorang individu dalam jaringan komunikasi yaitu opinion leader, klik, liaison, bridge, isolate, neglected. (Rogers & Kincaid, 1981) dari sinilah akan diketahui bagaimana pola jaringan komunikasi dan struktur jaringan komunikasi yang terbentuk didalamnya. [8]

Rogers & Kincaid, 1981 menjelaskan terdapat dua alasan mengapa peran jaringan komunikasi penting dalam berbagai hal, antara lain (1) dalam jaringan komunikasi dapat melihat peran penting aktor dalam sebuah jaringan, dalam hal ini aktor dapat seseorang maupun lembaga atau organisasi, (2) dalam jaringan komunikasi mengasumsi pentingnya relasi antar kantor. [8]

Dari permasalahan di atas dapat ditarik menjadi rumusan masalah yaitu bagaimana pola jaringan Komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi new normal? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripasikan pola jaringankomunikasi paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi newnormal.

Jogiyanto (2005) mendefinisikan system adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi unuk mencapai suatu tujuan tertentu. System ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesuatu yang nyata adalah suatu objek nyata, seperti temoat, benda dan orang-orang yang betul ada dan terjadi. [9]

Disfusi dalam sebuah system akan menghasilkan sebuah pilihan yang baru. Kehadiran ide dan inovasi baru masuk kedalam sebuah system akan mengakibatkan anggota system dihadapkan dengan dua pilihan yaitu menerima atau menolak. Proses keputusan inovasi adalah proses mental yang dilalui individu pertama tentang suatu inovasi, sampai sebuah keputusan itu diterima atau ditolak, dan terakhir konfirmasi akan keputusannya. (Kurnia, 2013). [10]

Jaringan Rogers & Kincaid (1981) menuturkan pengertian dari jaringan komunikasi yaitu individu-individu yang terkoneksi antara satu dengan lainya, yang dihubungkan oleh arus komunikasi yang terpola. Karenanya jaringan komunikasi adalah suatu rantai hubungan di antara individu-individu yang saling terkoneksi dalam suatu sistem sosial sebagai akibat dari terjadinya peralihan informasi di antara individu tersebut sehingga membentuk pola-pola atau model komunikasi tertentu. Dalam struktur komunikasi ini dapat dilihat pada lima tingkat, diantaranya: individu, jaringan komunikasi personal, diadik, klik, dan sistem. [8]

New Normal pertama kali digagas oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan pemerintahan di berbagai negara sebagai bentuk transisi agar dapat berdampingan hidup normal dengan COVID-19 pasca pandemi. Dengan diterapkannya kebijkan perubahan perilaku bertujuan untuk menormalisasi kehidupan memalui pemfungsian kembali aktifitas ekonomi dan sosial yang berawal dari kecemasan berlangsungnya penurunan roda perekonomian saat ini, mengingat pandemi telah memutuskan sebaagian besar aktivitas perekonomi di seluruh dunia.

Melewati kehidupan dan tatanan baru (new normal) pascapandemi menjadi tantangan tersendiri karenanya menjadi keharusan untuk membangun sistem/pola/ kultur adaptif demi kelangsungan hidup masyarakat. Sejauh ini, masyarakat telah berupaya membangun kebiasaan-kebiasaan yang dianggap baru seperti menjaga kesehatan diri, mematuhi protokol kesehatan, mengurangi interaksi sosial berskala besar, pemanfaatan teknologi informasi, dan seterusnya. Fase adaptasi dan transisi inilah yang disebut dengan new normal. Masa dimana setiap individu menanamkan pola perilaku protektif. Tertanamnya kesadaran akan perilaku protektif (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan) dalam tingkat individu ini dinamakan sebagai gelaja mindfullnes[11]

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis jaringan komunikasi, responden yang diambil adalah anggota Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dengan pengambilan sample teknik snowball. Sebagai keyinformanpertama adalah ketua Paguyuban, setelah itu key informan menentukan informan selanjutnya, sehingga total jumlah 47 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara yang digunakan peniliti yaitu wawancara terencana dimana bahan yang akan digali sudah dipersiapkan terlebih dahulu, seperti tema maupun pertanyaan, dan juga peneliti sudah menentukan narasumber yang akan digali informasinya mengenai penelitian yang akan dilakukan. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung kejadian di lokasi penelitian, yaitu perilaku anggota paguyuban dalam menerapkan protokol kesehatan dan menjalankan new normal. Dokumen yang diambil dalam mendukung penelitian diantaranya mengenai informasi kebijakan new normal, dan jumlah anggota paguyuban pedagang wisata pecalukan. Data internet/website dari dinas terkait dalam penyebaran informasi mengenai kebijakan newnormal.Untuk analisis data secara kuantitatif sesuai dengan variable-variable pendukung pola jaringan komunikasi dengan memakai beberapa tipe hubungan sebagai unit analisis. Penganalisian ini menggunakan sosiogram dan sosiometri dengan dibantu software UNICET 6.

Hasil dan Pembahasan

Distribusi pilihan pasangan hubungan komunikasi warga dalam penyebaran informasi program new normal di Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan.

Dalam menentukan motifnya, jawaban responden diklasifikasikan sesuai dengan sifat hubungan dari hubungan yang terbentuk, antara lain :

  1. Hubungan antar personal, yaitu bilamana antar individu saling berkaitan, serta mempunyai koneksi emosional antar satu sama lainnya. Menginformasikan apa yang sedang terjadi dilingkungan mereka melalui penyikapan diri, bersikap tulus satu sama lainnya dengan menunjukkan sikap verbal maupun non verbal. Penyampaian pemahaman yang positif, memberikan pengertian yang hangat dan penuh perhatian kepada satu sama lainnya dengan memberikan respon yang relevan dan penuh pengertian.
  2. Hubungan Posisional, yaitu bilamana hubungan yang ditentukan penuh oleh struktur kekuasaan dan tugas- tugas fungsional anggota organisasi, seperti ketua dengan anggotanya atau sebaliknya secara langsung serta hubungan antar anggota dalam satu devisi atau bagian yang sama.

Selain itu juga saluran-saluran maupun prosedur dalam kegiatan komunikasi dapat digolongkan antara lain :

  1. Saluran resmi (formal) adalah bilamana pesan mengalir melalui saluran-saluran komunikasi forml yang telah dibuat dan ditetapkan oleh organisasi. Pada tingkat coordinator Ketua Paguyuban dengan Wakil ketua paguyuban dan jajaran dibawahnya meliputi sekertaris, bendahara, koordinator 1, koordinator 2, koordinator 2, humas, pengawas lingkungan dan keberihan. Komunikasi yang dibentuk dalam program jaringan komunikasi di Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal melalui saluran resmi yang dilaksanakan dengan mengadakan rapat koordinasi setiap minggunya.
  2. Prosedur komunikasi, didalam prosedur komunikasi dapat terlihat seperti apa respoden dalam penyampaian pesan, yaitu dengan menyangkut media komunikasi yang digunakan dalam menyeleseaikan tugasnya. Apakah dengan media komunikasi yang telah ditetapkan oleh organisasi (media formal) ataupun media lain

diluar ketetapan yang dibuat organisasi (media informal). Sehubungan tidak adanya peraturan organisasi mengenai media komunikasi yang harus digunakan penyampaikan pesan didalam paguyuban dalam penyebaran infromasi new normal. Maka setiap komunikasi didalam paguyuban dalam jaringan komunikasi dilakukan secara lisan maupun group WA (whatsapp) melalui komunikasi kelompok dan komunikasi natarpersonal yang berlangsung tidak terlalu formal (layaknya sepertinya ngobrol seperti biasa).

Dibawah ini merupakan gambaran sosiogram jaringan komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi newnormal

Figure 1.Pengelompokan Klik dalam jaringan komunikasihasil kuisoner dan wawancara

Hasil Sosiogram diatas dapat dijelaskan melalui bagian-bagian dari jaringan komunikasi, diantaranya pilihan pasasangan hubungan komunikasi, motif pemilihan pasangan hubungan komunikasi, dan jaringan komunikasi yang terbentuk

Pilihan Pasangan Hubungan Komunikasi

Berdasarkan sosiogram diatas, didapat hasil pilihan pasangan hubungan komunikasi dalam tabel dibawah ini : Tabel 1 | Pilihan pasangan hubungan komunikasi

Figure 2.Pilihan pasangan hubungan komunikasiSosiogram jaringan komunikasi

Berlandasan data tabel di atas, dapat diketahui bahwasannya keseluruhan responden memilih 3 pasangan hubungan komunikasi dengan pencapaian presentase 87% dengan jumlah respoden 41 orang, responden memilih 4 orang ada 5 responden dengan presentase 11%, dan memilih 6 orang ada 1 responden dengan presentase 2%. Responden yang dipilih oleh 1 orang sebanyak 21 responden dengan presentase 45%, dipilih oleh 2 orang sebanyak 12 responden dengan presentase 26%, dipilih 3 orang sebanyak 3 responden dengan presentase 6%,

dipilih 4 orang sebanyak 3 responden dengan presentase 6%, dipilih 5 orang sebanyak 1 responden dengan

presentase 2%, dipilih 7 orang sebanyak 1 responden dengan presentase 2%, dipilih 9 orang sebanyak 1

responden dengan presentase 2%, dipilih 11 orang sebanyak 2 responde dengan presentase 4%, dipilih 12 orang

sebanyak 1 responden dengan presentase 2%, dipilih 13 orang sebanyak 1 orang dengan presentase 2% dan yang terakhir dipilih paling banyak dengan jumlah 18 orang dengan presentase 2%.

Motif Pemilihan Pasangan Hubungan Komunikasi

Penanganan kewajiban pada setiap individu dalam menjalankan fungsionalnya tidak terlepas dari peran indivdu yang lainnya. Di temukan beberapa hal yang menjadi motif atau melatarbelakangi pemilihan pasangan hubungan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal. Antara lain yaitu disebabkan oleh yang pertama adanya hubungan posisional dan yang kedua hubungan antarpersonal dalam penyebaran informasi, serta yang terakhir adanya motif ganda yaitu hubungan pisisional dan antarpersonal. Adapun jumlah pemilihan motif pasangan hubungan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi newnormaldianalisis melalui tabel frekuensi sebagai berikut :

Figure 3.Motif HubunganSosiogram jaringan komunikasi

Berlandasan data tabel diatas, maka dapat diketahui motif pada hubungan posisional dapat ditemukan sebanyak 22 pasangan hubungan komunikasi dengan presentase 15% diantaranya adalah pasangan responden (1- 5), (1-6), (1-8), (3-1), (4-1), (5-1), (6-1), (8-1) (1-2), (1-3), (1-4), (2-1), (2.5), (2-8), (3-5), (3-6), (3-8), (4-5), (4-

6), (5-4), (6-4), (6-19) yang merupakan komunikasi vertical atau komunikasi atasan dan bawahan, maupun sebaliknya antara ketua dan anggota (upward communication). Sedangkan pasanga responden (3-1), (4-1), (5-1), (6-1), (8-1), (2-1), (7-1), (15-1), (18-1), (22-1), (24-1), (26-1), (28-1), (32-1), (38-1), (39-1), (40-1), (43-1)

merupakan komunikasi antara anggota dengan ketua Paguyuban (downwardcommunication).

Beberapa pasangan komunikasi yang memilih hubungan natar personal di temukan sebanyak 107 pasangan dengan presentase 72% diantaranya yaitu responden (4-7), (5-9), (5-10), (7-5), (7-18), (8-29), (8-30),

(9-5), (9-11), (9-12), (10-5), (10-13), (10-14), (11-4), (11-6), (12-5), (12-10), (12-11), (13-5), (13-12), (14-5),

(14-9), (14-15), (15-4), (15-16), (16-5), (16-10), (16-17), (17-10), (17-14), (17-15), (19-21), (19-22), (20-6), (20-

24), (20-25), (21-4), (21-6), (21-20), (22-6), (22-23), (23-6), (23-19), (23-25), (24-6), (24-19), (25-6), (25-26),

(25-27), (26-4), (26-23), (27-4), (27-19), (27-28), (28-20), (28-24), (29-33), (29-34), (30-31), (30-32), (31-43),

(31-44), (32-41), (32-42), (33-3), (33-8), (33-40), (34-8), (34-35), (34-36), (35-8), (35-29), (35-30), (36-8), (36-

29), (36-37), (37-8), (37-38), (37-39), (38-1), (38-3), (38-39), (39-8), (39-29), (40-2), (40-39), (41-30), (41-44),

(41-47), (42-3), (42-8), (42-42), (43-1), (43-30), (43-42), (44-2), (44-3), (44-45), (45-2), (45-3), (45-30), (46-2),

(46-3), (46-45), (47-3), (47-32), (47-46).

Pasangan responden yang terakhir adaah menggunakan hubungan komunikasi dengan motif ganda (posisional+antarpersonal) di temukan sebanyak 20 pasangan responden dengan presentase 13% yang meliputi (6-20), (7-1) (8-3), (11-5), (13-9), (15-1), (18-1), (18-2), (18-5), (19-6), (22-1), (24-1), (26-1), (28-1), (29-8),

(30-8), (31-3), (32-1), (39-1), (40-1). Ada alasan dari 20 psangan responden ini menggunakan motif ganda

karena mereka memiliki tujuan daam penanganan kewajiban yang sama dan hubungan emosional antara kedua bela pihak, seperti contoh kedekatan pribadi antara anggota pasangan responden.

Pola Jaringan Komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan Dalam Penyebaran Infromasi NewNormal

Informasi tentang new normal yang merupakan kegiatan Paguyuban pedagang wisata pecalukan yang diharapkan dapat membantu program Pemerintah serta dapat medekan angkat kenaikan virus Covid-19 yang semakin melonjak pesat. Program ini pertama kali di gagas di paguyuban oleh ketua paguyuban yaitu bapak Tosim (key informan) dalam penelitian ini. Berdasarkan informasi yang didapat terkait dengan siapa saja Ketua paguyuban membicarakan program new normal, terdapat beberapa nama yang dianjurkan sebagai responden selanjutnya, dan pada akhirnya ditemukan sebanyak 47 responden yang diambil sebagai sample dalam penelitian ini.

Figure 4.Pola Jaringan Komunikasi yang terbentukhasil kuisoner dan wawancara

Bersumber dari gambar sosiogram diatas, menunjukkan bahwa dalam bentuk struktur jaringan komunikasi menyeluruh, aksesibilitas anggota dalam menerima dan menyebarkan informasi tidak ada batasnya. Meskipun bentuk jaringan yang digambarkan membentuk jaringan menyeluruh, akan tetapi gambar sosiogram akan mengidentifikasi berbagai peran struktur komunikasi yang ada.

Pemuka Pendapat

Kepermukaan pendapat adalah derajat dimana individu-individu dapat mempengaruhi sikap individu lain secara informal atau perilaku yang tidak nampak dalam suatu cara keinginan dengan frekuensi yang relative. Sebagaimana individu dipilih oleh individu lain dalam lawan komunikasinya. Maka dia disebut pemuka pendapat. Sedangkan bila jumlah pilihan yang diterima dari individu lain kurang dari atau sama dengan rata-rata pilihan inividu lain. Maka itu disebut bukan pemuka pendapat (Rogers dan Kincaid, 1981). [5]

Figure 5.Presentase Pemuka Pendapathasil wawancara

Perhitungan yang dilakukan pada responden yang berjumlah 47 orang pada penyebaran informasi program new normal di Paguyuban pedagang wisata pecalukan menunjukkan hasil rata hubungan yang diterima oleh individu anggota jaringan ada 3 pemilih, menurut hitungan tersebut, bisa diketuhui bahwa yang menjadi pemuka pendapat adalah individu yang dipilih 3 orang atau lebih dari itu. Indiviu yang menjadi memuka pendapat dalam program ini adalah individu denga nomor responden 1,2,3,4,5,6, dan 8. Individu tersebut terdiri dari nomor 1 yang dipilih sebanyak 13 orang adalah ketua paguyuban, nomor 2 wakil ketua yang dipilih sebanyak 6 orang, nomor 3 yang dipilih oleh 10 orang adalah sekertaris, nomor 4 yaitu bendahara yang dipilih sebanyak 8 orang, nomor 5 ialah coordinator 1 yang dipilih sebanyak 12 orang, nomor 6 ialah coordinator 3 yang dipilih oleh 10 orang, dan yang terakhir koordinatro 2 dengan nomor responden 8 yang dipilih oleh 11 orang.

Berdasarkan sosiogram jaringan komunikasi dalam penyebaran informasi new normal di paguyuban pedagang wisata pecalukan menunjukkan bahwasannya responden nomor urut 1 yang diduduki oleh ketua paguyuban mendapatkan 13 orang yang memilih beliau dan merupakan hasil yang paling besar dibanding pemuka pendapat lainnya. Hal ini dikarenakan karena ketua paguyuban memiliki peranan penting sebagai pusat informasi didalam paguyuban pedagang wisata pecalukan, dimana informasi mengenai segala aktivitas dan peraturan terpusat pada ketua paguyuban sebelum disalurkan dan disebarluaskan keseluruh anggota. Selain

Struktur Komunikasi

Struktur komunikasi merupakan variable yang dapat digunakan sebagai cara mengidentifikasi prean seorang individu dalam jaringan komunikasi suatu sistem. Peranan dalam jaringan komunikasi tersebut adalah lision,bridge, isolate, negeleted,gatekeeperdan cosmopolite.

Brige ialah Individu yang menggabungkan dua klik atau lebih dalam suatu sistem dan dia menjadi anggota klik manapun. Gate Keeper ialah Individu yang melakukan filtering mengenai informasi yang masuk sebelum dikomunikasikan dengan anggota kelompok [8]. Tabel dibawah ini merupakan tabel truktur komunikasi responden paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal.

Figure 6.Presentase Struktur Komunikasihasil wawancara

Bersumber pada tabel diatas, dapat dilihat seperti apa struktur komunikasi didalam Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal yang digagas oleh ketua paguyuban. Dimana ditemukan peran bridge sebanyak 6 orang dengan presntase 13%, repsonden yang memiliki peran sebagai bridge diperankan oleh responden dengan nomor 2, 4, 5, 6, 8, dan 30. Bridge disini disebutkan juga dengan orang yang berperan membawa keterbukaan dalam kliknya masing-masing, sehingga memungkinkan terjadinya disfusi inovasi kedalam klik. Posisi dari responden yang menjadi bridge dalam jaringan komunikasi dalam penelitin ini merupakan beberapa orang yang mempunyai jabatan dan peran didalam paguyuban seperti nomor 2 sebagai wakil ketua, nomor 4 sebagai bendahara, nomor 5 sebagai coordinator 1, nomor 6 sebagai coordinator 3, nomor 8 sebagai coordinator 2, dan nomor 30 berperan sebagai humas.

Selain bridge juga ditemukan gate keeper sebanyak 1 orang dengan responden nomor 3 yang berposisi sebagai sekertaris paguyuban. Gate keeper disini berperan sebagai orang yang menyaring informasi sebelum disampaikan ke anggota komunitas (klik).

Jaringan komunikasi Personal

Jaringan komunikasi personal dapat dilihat dari drajat individu dalam kapasitas interaksi sosialnya dengan anggota sistem lain dalam jaringan komunikasinya. Berikut adalah indikator jaringan komunikasi personal. Dibawah ibi tabel data yang diperoleh dari rata-rata jumlah hubungan komunikasi personal yang didukung oleh sosiometri dan sosiogram.

Jaringan komunikasi personal Anggota Presntase
Luas 7 15%
Sempit 40 85%
Jumlah 47 100%
Table 1.Presentase Jaringan komunikasi PersonalSosiogram

Hasil rata-rata jumlah hubungan personal pada anggota jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal 5,78 atau dibulatkan menjadi 6. Alhasil dapat disimpulkan rata-rata anggota responden yang memiliki hubungan komunikasi 6 pasangan baik mengarah pada dirinya maupun pada individu lain maka bisa disebut dengan anggota jaringan yang mempunyai hubungan personal yang luas. Sedangkan anggota jaringan yang hubungan komunikasinya di bawah 6 orang maka dikatakan hubungan komunikasi personalnya sempit.

Tabel diatas menunjukkan ada y orang responden atau dengan presentase 15% yang memliki komunikasi personal luas dengan nomor responden 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 8. Posisi responden nomor 1 adalah ketua paguyuban, nomor 2 adalah wakil ketua, nomor 3 adalah sekertaris, nomor 4 adalah bendahara, nomor 5 adalah coordinator 1, nomor 6 adalah coordinator 3, dan nomor 8 adalah coordinator 2. Sedangkan untuk sisanya ada 40 orang dengan presentase 85% mempunyai komunikasi personal sempit karena hubungan komunikasi personalnya dibawah angka 6.

Integritas Jaringan komunikasi

Integrasi jaringan komunikasi bisa diukur dengan jumlah hubungan tidak langsung (dua langkah) antara individu dengan anggota jaringan komunikasi personal yang bersangkutan, dibagi dengan jumlah kemungkinan hubungan. Hasil perhitungan tingkat integrasi jaringan komunikasi dipenilitian kali ini adalah sebagai berikut :

Jaringan komunikasi Anggota Hubungan Komunikasi Dua Langkah Indeks
Anggota Jaringan Penyebaran informasi new normal 47 393 0,004
Table 2.Integritas Jaringan KomunikasiSosiogram

Tingkat integritas jaringan komunikasi paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal adalah sangat rendah, sebab secara nominal jauh dari angka 0,5. Dengan demikian, jaringan komunikasinya cenderung radial, atau arus informasi cenderung menyebar. Sifat jaringan komunikasi seperti ini lebih terbuka, sehingga memungkinkan masuknya informasi baru ke dalam sistem. Meskipun indeks integrasi tergolong rendah informasi baru masuk dan dapat cebat menyebar kedalam sistem melalui pemuka pendapat.

Wilayah Pengaruh

Wilayah pengaruh individu anggota suatu sistem adalah jumlah anggota sistem kepada siapa dia memberikan saran bila diminta, atau kepada siapa saja yang secara langsung ataupun tidak langsung. Perhitungan ini dilakukan kepada responden yang menjadi pemuka pendapat.

Hasil wilayah pengaruh masing-masih pemuka pendapat pada jaringan komunikasi paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal sebagai berikut Responden 1 presentase wilayah pengaruh 183%,Responden 2 presentase wilayah pengaruh 111%,Responden 3 presentase wilayah pengaruh

117%,Responden 4 presentase wilayah pengaruh 111%,Responden 5 presentase wilayah pengaruh 128%,

Responden 6 presentase wilayah pengaruh 83%,Responden 8 presentase wilayah pengaruh 113%

Dari perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa responden nomor 1 mempunyai wilayah pengaruh yang luas yaitu dengan presentase 183% hal ini dikarenakan responden merupakan orang yang andil besar dalam penyebaran informasi kesetiap anggota paguyuban. Responden nomor 1 pada jaringan komunikasi ini berperan sebagai Pemukapendapatdimana dia myebarkan informasi dan sebagai wadah pagi semua aktor untuk mendapatkan informasi.

Sentralitas

Sentralitas anggota dalam suatu sistem bisa diukut melalui panjangnya rantai pada wilayah pengaruhnya, sentralitas diukur melalui jumlah rata-rata hubungan antara individu yang mempunyai wilayah pengaruh dengan individu-individu yang berapa dalam wilayah pengaruh. Untuk menentukan sentralitas dalam jaringan menggunakan aplikasi ucinet6 ini peneliti terlebih dahulu mencari density, berlanjut dengan eigenvector centrality, degree centrality, clones centrality dan betweens centrality.

No Nama Outdeg Indeg Out2loc In2loca Outclos Inclose Outeige Ineigen Between
1 Tosim 6.000 18.000 23.000 77.000 151.000 75.000 0.298 0.526 897.036
2 Diono 3.000 6.000 14.000 25.000 166.000 107.000 0.171 0.144 56.145
3 Saud 4.000 10.000 18.000 41.000 155.000 96.000 0.220 0.219 292.653
4 Jianto 4.000 8.000 17.000 49.000 171.000 99.000 0.214 0.371 206.400
5 Muri 4.000 13.000 16.000 59.000 175.000 90.000 0.186 0.456 546.168
6 Sutris 4.000 11.000 16.000 53.000 173.000 93.000 0.192 0.379 501.362
7 Aan 3.000 1.000 13.000 8.000 182.000 143.000 0.166 0.094 45.000
8 Yohanes 4.000 12.000 16.000 53.000 157.000 94.000 0.189 0.278 818.689
9 Munir 3.000 3.000 10.000 16.000 205.000 132.000 0.114 0.133 89.950
10 Karyati 3.000 4.000 10.000 17.000 209.000 130.000 0.103 0.127 215.750
11 Junaedi 3.000 2.000 12.000 5.000 194.000 174.000 0.150 0.044 32.700
12 Rohman 3.000 2.000 10.000 4.000 200.000 174.000 0.112 0.042 9.000
13 Suwadi 3.000 1.000 10.000 4.000 215.000 174.000 0.105 0.032 3.083
14 Yasin 3.000 2.000 10.000 5.000 207.000 173.000 0.116 0.033 132.583
15 Bagus 3.000 2.000 13.000 3.000 177.000 214.000 0.155 0.008 143.400
16 Aris 3.000 1.000 10.000 2.000 207.000 258.000 0.098 0.002 49.500
17 Marsudi 3.000 1.000 9.000 1.000 207.000 302.000 0.095 0.001 2.000
18 Muzamil 3.000 1.000 13.000 1.000 183.000 186.000 0.167 0.024 0.500
19 Mila 3.000 4.000 10.000 16.000 212.000 132.000 0.122 0.108 130.500
20 Bu nur 3.000 3.000 10.000 13.000 207.000 134.000 0.119 0.104 207.500
21 H sunah 3.000 1.000 11.000 4.000 198.000 176.000 0.133 0.027 6.333
22 Indra 3.000 1.000 13.000 4.000 177.000 176.000 0.153 0.027 56.333
23 Robiah 3.000 2.000 10.000 2.000 205.000 214.000 0.110 0.009 13.333
24 Bu nunuk 3.000 2.000 13.000 4.000 180.000 176.000 0.156 0.027 20.167
25 Kasmiatun 3.000 2.000 10.000 5.000 206.000 173.000 0.120 0.029 136.000
26 Imam 3.000 1.000 13.000 2.000 177.000 217.000 0.158 0.007 19.500
27 Karyono 3.000 1.000 10.000 2.000 195.000 216.000 0.122 0.007 50.000
28 Samdani 3.000 1.000 12.000 1.000 177.000 259.000 0.146 0.002 16.000
29 Nanang 3.000 4.000 10.000 17.000 186.000 134.000 0.111 0.074 346.000
30 Farid 3.000 5.000 10.000 18.000 184.000 128.000 0.113 0.075 386.212
31 Kastini 3.000 1.000 10.000 5.000 174.000 172.000 0.125 0.019 130.083
32 Arifin 3.000 2.000 12.000 6.000 169.000 169.000 0.132 0.020 177.712
33 Tumiati 3.000 1.000 11.000 4.000 172.000 178.000 0.144 0.019 93.000
34 Abu bakar 3.000 1.000 10.000 4.000 187.000 178.000 0.103 0.019 177.000
35 Poniman 3.000 1.000 10.000 1.000 182.000 222.000 0.105 0.005 6.000
36 Karmat 3.000 1.000 10.000 1.000 184.000 222.000 0.109 0.005 91.000
37 Rochim 3.000 1.000 10.000 1.000 190.000 264.000 0.130 0.001 47.000
38 Suparman 3.000 1.000 13.000 1.000 178.000 305.000 0.171 0.000 10.567
39 Darmani 3.000 3.000 13.000 3.000 165.000 252.000 0.152 0.002 30.200
40 Lani 3.000 1.000 12.000 1.000 180.000 221.000 0.158 0.005 43.433
41 Tauchid 3.000 2.000 9.000 4.000 194.000 208.000 0.094 0.007 101.500
42 Bu harti 3.000 2.000 11.000 3.000 165.000 208.000 0.128 0.006 16.333
43 Bu lilik 3.000 1.000 12.000 1.000 170.000 216.000 0.137 0.005 7.250
44 Mardinata 3.000 2.000 10.000 3.000 182.000 207.000 0.132 0.007 60.030
45 Winarsih 3.000 2.000 10.000 3.000 176.000 244.000 0.128 0.002 17.000
46 Taselim 3.000 1.000 10.000 1.000 180.000 293.000 0.132 0.000 3.000
47 Solikah 3.000 1.000 10.000 2.000 174.000 252.000 0.123 0.002 57.091
Table 3.Pengukuran Menyeluruh Jaringan Paguyuban Pedagang Wisata PecalukanHasil Wawancara dan sosiogram
  1. Eigenvector Centrality digunakan untuk menggambarkan seberapa penting seseorang yang mempunyai jaringan atau relasi dengan semua aktor dan anggota. Dalam hasil sentralitas eigenventor mendapatkan 1 nama dengan angka paling besar yaitu Tosim dengan nilai nEigenvectornya 59.560 ha ini menunjukkan karena bapak Tosim merupakan pemuka pendapat atau key forman dalam jaringan penyebaran informasi new normal didalam paguyuban pedagang pecalukan.
  2. Degree Centrality menggambarkan seberapa popular aktor dalam jaringan, dari hasil perhitungan ucinet nilai normalitas outdegree jaringan paling tinggi mempunyai nilai yang sama yaitu 13.043 hal ini membuktikan bahwasannya responden memilih 6 orang untuk diajak berkomunikasi menyebarkan informasi new normal, dan juga responden nomor 1 yaitu bapak Tosim mendapat nilai normalitas indefree tertinggi yaitu 28,261 hal ini dikarenakan bapak tosim di dalam paguyuban berperan sebagai key informan atau pemuka pendapat.
  3. Clones Centrality pengukuran yang digunakan untuk mengetahui seberapa dekat aktor dengan anggota lainnya dalam jaringan komunikasi. Kedekatan ini juga diukur menggunakan beberapa langkah jalur seorang aktor bisa dihubungankan atau dihubungkan oleh aktor atau anggota lain dalam jaringan. Responden Bapak Tosim dengan nomor 1 mendapatkan nilai nCloseness paling tinggi didalam jaringan dengan nilai 61.333 karena responden dengan nomor 1 merupakan key informan yang menyebarkan informasi kesemua anggota paguyuban pedagang wisata pecalukan, dan beliau memiliki kemudahan dalam menyebarkan informasi.
  4. Betweens Centrality menggambarkan posisi aktor sebagai penghubung atau perantara (betwennes) dari hubungan aktor satu dengan aktor lainnya dalam suatu jaringan, dari hasil perhitungan ucinet dapat dilihat responden dengan nomor urut 1, 8 5, dan 6 memiliki nilai normalitas paling tinggi artinya 4 responden ini memiliki keperentaraan yang tinggi dan mereka saling berhubungan dan memiliki interaksi. Dan responden dengan nomor 17 dan 18 memiliki nilai normalitas terendah hal ini dapat diartikan mereka berdua jangkauan untuk berinteraksi tidak luas.

Pilihan Hubungan Komunikasi

Tingkat pilihan hubungan komunikasi diukur dalam skala normal, apabila individu memilih tiga atau lebih individu sebagai pasangan komunikasinya, maka dikatakan hubungan komunikasinya tinggi. sedangkan, bila individu memilih kurang dari tiga, maka pilihan komunikasinya rendah.

Pilihan Hubungan Anggota Presentase
Memilih 0 - -
Memilih 1 - -
Memilih 2
Memilih 3 41 87%
Memilih 4 5 11%
Memilih 5 - -
Memilih 6 1 2%
Jumlah 47 13%
Table 4.Presentase Pilihan Hubungan KomunikasiKuisioner nomor 1

Berdasarkan tabel di atas dapat diartikan bahwa responden memilih 3 pasangan dengan jumlah 36 orang dengan presentase 77%, memilih 4 pasangan ada 5 responden dengan presentase 11%, dan memilih 6 pasangan ada 1 responden yaitu bapak tosim sebagai ketua baguyuban, alasan bapak tosim memilih labih banyak agar informasi dapat menyebar secara merata.

Frekuensi Hubungan Komunikasi

Informasi tentang new normal di Paguyuban pedagang wisata pecalukan yang diperoleh responden dari frekuensi komunikasi yang dilakukannya dengan responden lain yang bertindak sebagai sumber informasi. Frekuensi hubungan komunikasi seperti dibawah ini

Frekuensi Komunikasi Anggota Presentase
< dari 1 mingu sekali
1 minggu sekali 43 29%
2 minggu sekali 88 59%
3 minggu sekali 18 12%
1 bulan sekali
> dari 1 bulan sekali
Setiap hari/ sewaktu waktu
Jumlah 149 100%
Table 5.Frekuensi Hubungan KomunikasiKuesioner

Bersumber pada data tabel diatas, dapat diketahui bahwasannya frekuensi hubungan komunikasi yang terjadi pada jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal. Rata-rata terbesar dengan presentase 59% yang dipilih oleh 88 orang yaitu memilih frekuensi 2 minggu

sekali. Hal ini dikarenakan ada rapat rutin yang diadakan oleh paguyuban pedagang wisata pecalukan, sehingga mereka dapat lebih mudah memperoleh informasi yang di berikan oleh pemuka pendapat.

Diadik

1. Hemofili dan Heterofili dalam status sosial ekonomi berlandasan data yang diperoleh, diketahui jumlah hubungan yang homofili dan heterofili yang berada dalam sistem dalam status sosial ekonomi indikator pendidikan dan pekerjaan, adalah sebagai berikut :

Tingkat Homofili dan Heterofili Jumlah Hubungan Presentase
Homofili Tinggi, Heterofili Rendah 83 56%
Heterofili Tinggi, Homofili rendah 66 44%
Jumlah 149 100%
Table 6.Hemofili dan Heterofili dalam status sosial ekonomiKuesioner

Bersumber dari tabel diatas menunjukkan bahwa hubungan diadik terbesar ditunjukkan oleh mereka yang memiliki tingkat homofili tinggi dan heterofili rendah dalam status sosial ekonomi dengan presentase 56% dengan jumlah 83 dari keseluruhan komunikasi diadik yang terdapat dalam sistem memiliki status sosial ekonomi yang sama.

Hal ini disebabkan karena seluruh dari responden di dalam paguyuban pedagang wisata pecalukan memiliki latar belakang pekerjaan yang sama yaitu pedagang, meskipun demikian informasi yang mereka sampaikan dapat menyebar dengan merata didalam paguyuban tersebut

2. Hemofili dan heterofili dalam tingkat pengusaan Inovasi berlandasan data yang diperoleh, diketahui jumlah hubungan yang homofili dan heterofili yang berada penguasaan inovasi dengan indikator pengertian dari new normal, penerapan new normal dalam kehidupan sehari-hari dan manfaat yang didapat setelah program new normal diterapkan di kehidupan bermasyarakat, adalah sebagai berikut :

Tingkat Homofili dan Heterofili Jumlah Hubungan Presentase
Homofili Tinggi, Heterofili Rendah 84 56%
Heterofili Tinggi, Homofili rendah 65 44%
Jumlah 149 100%
Table 7.Hemofili dan heterofili dalam tingkat pengusaan InovasiKuesioner

Berlandasan tabel diatas, dapat diketahui bahwasannya hubungan diadik yang yang berfungsi sebagai hubungan pada umumnya bersifat homofili tinggi dan heterofili rendah dengan presentase 56% dengan jumlah hubungan diadik 84 hubungan. Hal ini dapat disimpukan bahwasannya tingkat pengusaan inovasi yang didapat oleh masing2 responden sama, sehingga dapat dikatakan informasi yang disebarkan oleh pemuka pendapat ke seluruh anggota dapat diterima dengan baik.

Arah Hubungan

[5] Rogers dan Kincaid, (1981) menjelaskan bahwa arah hubungan merupakan kedudukan individu memilih individu lainya sebagai pasangan komunikasi dalam sebuah jaringan kommunikasinya. Seseorang individu mempunyai satu arah jika hanya memilih satu pasangan komunikasi. Sedangkan jika antara individu saling memilih sebagai pasangan komunikasi maka mempunyai dua arah, berikut tabel arah hubungan

Arah Hubungan Jumlah Presentase
Satu Arah 134 90%
Dua Arah 15 10%
Jumlah 149 100%
Table 8.Presentase Arah HubunganKuesioner

Berlandasan data tabel diatas ditemukan sebanyak 141 hubungan komunikasi, diantaranya ada 134 hubungan hubungan 1 arah dengan presentase 90% yang bersifat dia memilih pasangan pasangan komunikasi akan tetapi tidak dipilih balik oleh pasangan komunikasinya. Sedangkan ada 15 hubungan dengan presentase terkecil yaitu 10% yang bersifat 2 arah, dimana komunikasi yang mereka jalin saling timbal balik.

Adanya komunikasi satu arah didalam jaringan komunikasi paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal karena responden responden ingin mendapatkan informasi dari responden lainnya dengan memilih responden yang berbeda. Sementara itu komunikasi dua arah karena adanya kesamaan dan kecocokan dalam hubungan paguyuban dan kedekatan emosional.

Klik

1. Keterbukaan Klik

Berdasarkan perhitungan dalam lampiran sosiogram dapat diketahui bahwa Klik A beranggotakan 14 orang dengan 23 hubungan antar klik, dengan tingkat keterbukaan kliknya adalah 0,023. Klik B beranggotakan 11 orang dengan 14 hubungan antar klik, dengan tingkat keterbukaan kliknya adalah 0,014. Klik C beranggotakan 12 orang dengan 19 hubungan antar klik, dengan tingkat keterbukaan kliknya adalah 0,019. Klik D beranggotakan 10 orang dengan 15 hubungan antar klik, dengan tingkat keterbukaan kliknya adalah 0,015

Dari uraian diatas dapat dijabarankan bahwa tingkat keterbukaan klik A adalah yang tertinggi dari klik yang lainnya. Sedangkan klik B mempunyai keterbukaan rendah. Sedangkan rata-rata tingkat keterbukaan jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal adalah sebesar 0,018. Dengan hasil rata-rata tersebut menunjukkan klik-klik yang berada dalam jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new adalah rendah karena nilai kurang dari 0,5.

2. Kepadatan Klik

Untuk hasil perhitungan kepadatan klik sebagai berikut Klik A beranggotakan 14 orang dengan 47 hubungan, dengan tingkat kepadatan kliknya adalah 0,258. Klik B beranggotakan 11 orang dengan 34 hubungan, dengan tingkat kepadatan kliknya adalah 0,309. Klik C beranggotakan 12 orang dengan 37 hubungan, dengan tingkat kepadatan kliknya adalah 0,280. Klik D beranggotakan 10 orang dengan 31 hubungan, dengan tingkat kepadatan kliknya adalah 0,344

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan klik adalah 0.297. klik D merupakan klik dengan kepadatan paling tinggi dibandingkan dengan klik yang lainnya. Dengan perolehan hasil rata-rata 0,297 maka tingkat kepadatan klik-klik pada jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new adalah rendah karena nilai kurang dari 0,5.

3. Keterhubungan Klik

Berdasarkan perhitungan dalam lampiran sosiogram dapat diketahui bahwa Klik A beranggotakan 14 orang dengan 47 hubungan, dengan tingkat keterhubungan kliknya adalah 0,516 atau mencapai presentase 52%. Klik B beranggotakan 11 orang dengan 34 hubungan, dengan tingkat keterhubungan kliknya adalah 0,618 atau mencapai presentase 62%. Klik C beranggotakan 12 orang dengan 37 hubungan, dengan tingkat keterhubungan kliknya adalah 0,56 atau mencapai presentase 56%. Klik D beranggotakan 10 orang dengan 31 hubungan, dengan tingkat keterhubungan kliknya adalah 0,68 atau mencapai presentase 68%.

Dari penjabaran diatas, dapat dijelaskan bahwa keseluruhan klik mempunyai keterhubungan yang luas yaitu nilai yang didapat lebih dari 50%. Dan klik yang paling luas angka keterhubungannya yaitu klik D yang mencapai presentase 68%.

Sistem

1. Kepadatan jaringan komunikas (kepadatan sistem)

Dari hasil perhitungan kepadatan jaringan yang diperoleh hasil bawasannya kepadatan jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal sebesar 0,06 dari 149 hubungan komunikasi yang terjalin dari 47 anggota jaringan.

Dengan demikian dapat dikatan tingkat kepadatan jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal adalah rendah (karena indeks hasil perhitungan tidak mendekati 1), artinya hubungan komunikasi yang terjalin antara anggota paguyuban berkaitan dengan informasi new normal adalah rendah, hal ini karena Anggota paguyuban melakukan komunikasi dengan ketua terkait new normal hanya pada saat kegiatan rapat yang dilakukan 2 minggu sekali. Dan penyebaran informasi inovasi new normal didalam paguyuban tidak disertai pengawasan intens untuk mengetahui tingkat pemahaman anggota terhadap inovasi yang diberikan

2. Keterhubungan jaringan komunikasi

Dari hasil perhitungan yang dilakukan, didapat hasil bahwa tingkat keterhubungan jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal adalah 0,434 atau mencapai presentase 44% yang terdiri dari 47 responden dari jumlah hubungan 149. Dengan demikian dapat dikatakan bahwasannya tingkat keterhubungan jaringan komunikasi adalah sampit karena indeks hasil perhitungan kurang dari 50%

3. Kekompakan jaringan komunikasi

Jaringan komunikasi suatu sistem dikatakan mempunyai tingkat kekompakan tinggi jika semakin banyak dapat berhubungan satu sama lain melalui langkah-langkah hubungan komunikasi langsung. Selain

itu, suatu sistem juga dikatakan memiliki tingkat kekompakan tinggi jika semakin banyak individu perantara yang dapat dilalui individu lain untuk berhubungan dengan individu tertentu (semakin banyak jumlah pasangan individu yang dapat berhubungan secara tidak langsung)

Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh hasil 14% yang didapat dari 149 hubungan komunikasi 1 langkah dan 36% dari 393 hubungan 2 langkah. Dengan demikian dapat dikatakan jaringan komunikasinya rendah karena hasil perhitungan kurang dari 50%.

Jaringan Komunikasi yang terbentuk Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam Penyebaran Informasi New Normal

Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan pada jaringan komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi new normal, menunjukkan adanya komunkasi dalam kegiatan paguyuban yang dilakukan setiap dua minggu sekali. Melalui komunikasi tersebut telah membentuk suatu jaringan komunikasi didalamnya, dimana masing-masing elemen yang terdapat pada sistem disini saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yang sama yaitu mengetahui informasi new normal sebagai antisipasi paguyuban agar mengurangi melonjaknya angka positif COVID-19.

Jaringan komunikasi didalam Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi new normal, terdapat individu yang berperan penting dalam penyebaran informasi, berdasarkann hasil penelitian yang diperoleh terdapat 7 individu yang berperan sebagai pemuka pendapat yang diperankan oleh responden nomor 1 (Ketua Paguyuban, nomor 2 (wakil ketua paguyuban), nomor 3 (sekertaris paguyuban), nomor 4 (bendahara paguyuban), nomor 5 (koordinator 1), nomor 6 (koordinaor 2), dan nomor 8 (koordinator 2).

Pada jaringan komunikasi di Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi new normal yang menjadi pemuka pendapat utama adalah ketua paguyuban dikarenakan beliau mempunyai jaringan paling luas dibandingkan pemuka pendapat lainnya, selain itu karena dalam hubungan komunikasi ketua paguyuban dijadikan pusat pasangan hubungan komunikasi karena dipilih sebanyak 18 orang anggota jaringan.

Peran aktif ketua paguyuban untuk mendapatkan informasi dilakukan untuk memastikan bahwa informasi tersebut benar adanya serta mengantisipasi ketidakpastian informasi tersebut. Dibantu dengan 6 pemuka pendapat lainnya mereka menyebarkan informasi new normal di Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan. Informasi yang didapat oleh ketua paguyuban tidak hanya dari rapat dan sosialisasi, akan tetapi juga didapat melalui media masa seperti televisi, koran, dan media massa.

Arus informasi yang mengalir pada Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan melalui saluran yang membentuk pola menyeluruh sehingga aksesibilitas anggota dalam menerima dan menyebarkan informasi tidak ada batasnya.

Berdasar analisa tentang struktur komunikasi, dapat ditemukan peran bridge sebanyak 6 orang dengan presentase 13%, repsonden yang memiliki peran sebagai bridgediperankan oleh responden dengan nomor 2, 4, 5, 6, 8, dan 30. Dan juga selain bridge ditemukan gate keeper sebanyak 1 orang dengan responden nomor 3 yang berposisi sebagai sekertaris paguyuban. Gate keeper disini berperan sebagai orang yang menyaring informasi sebelum disampaikan ke anggota komunitas (klik).

Pada tingkat integrasi dinyatakan baik, hal ini karena hasil perhitungan 0,004. Dengan demikian, jaringan komunikasinya cenderung radial, atau arus informasi cenderung menyebar. Sifat jaringan komunikasi seperti ini lebih terbuka, sehingga memungkinkan masuknya informasi baru ke dalam sistem. Meskipun indeks integrasi tergolong rendah informasi baru masuk dan dapat cepat menyebar kedalam sistem melalui pemuka pendapat.

Hubungan komunikasi yang terjalin antara anggota paguyuban berkaitan dengan informasi new normal adalah rendah, hal ini karena anggota paguyuban melakukan komunikasi dengan ketua terkait new normal hanya pada saat kegiatan rapat yang dilakukan 2 minggu sekali. Dan juga penyebaran informasi inovasi new normal didalam paguyuban tidak disertai pengawasan intens untuk mengetahui tingkat pemahaman anggota terhadap inovasi yang diberikan.

Tingkat kekompakannya dikatakan rendah dari perhitngan hubungan komunikasi 1 langkah dan 2 langkah yang mendapat hasil lemah karena perhitungan menunjukkan angka 0,434 yang dimana nilai dibawah indeks normal nya yaitu 1.

Analisa selanjutnya pada klik dalam penelitian ini menunjukkan keterbukaan klik keseluruan dibawah angka 0,5 maka dapat disimpulkan keterbukaan setiap klik masih tergolong sangat rendah. Selanjutnya pada kepadatan klik mempunyai rata-rata 0,297 masih dikatakan rendah. Dan yang terakhir tingkat keterhubungan klik mencapai angka rata-rata 59% hal itu bisa dikatakan keterhubungan antar klik sangat tinggi.

Berdasarkan hasil analisa, bahwa keberhasilan penyebaran informasi new normal dikarenakan adanya peran pemuka pendapat yang dapat mempengaruhi anggota yang lainnya yang menjadi sistem jaringan. Penelitian ini juga menemukan pemuka pendapat berjumlah 7 (tujuh) orang yang berperan aktif sebagai bridgedan gatekeeper. Hal ini kemudian memunculkan pola jaringan ke semua saluran atau segala saluran. Setiap anggota paguyuban dengan mudah memberikan dan menerima informasi salah satunya tentang new normal. Pendekatan dan pengawasan secara intens terhadap informasi sosialisasi dan edukasi perlu ditingkatkan kembali sebagai cara untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anggota upaya penerapan new normal dalam kehidupan sehari-hari.

Simpulan

Pola struktur jaringan komunikasi yang terbentuk pada jaringan komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi new normal adalah jaringan komunikasi kesemua saluran, maksudnya semua anggota mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi anggota lainnya, meskipun menggunakan jenis komunikasi semua saluran, namun masih terdapat peran penting pemuka pendapat akibat adanya pemilihan pasangan hubungan.

Peran struktur komunikasi dalam jaringan komunikasi Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan dalam penyebaran informasi new normal sebagai berikut : Klik, Gate Keeper, Bridge, dan Pemuka pendapat. Jaringan komunikasi Paguyuban pedagang wisata pecalukan dalam penyebaran informasi new normal ditemukan sebanyak 4 klik dari 47 anggota, yang dimana klik A beranggotakan 14 orang dimana responden nomor 1 merupakan pemuka pendapat utama dan responden nomor 6 merupakan bridge. Klik B beranggotakan 11 orang dimana responden nomor 5 merupakan bridge. Klik C beranggotakan 12 orang dimana responden nomor 2 merumpakan bridge, dan responden nomor 3 merupakan gatekeeper. Klik D beranggotakan 10 orang dimana responden nomor 8 merupakan bridge.

Terdapat 7 pemuka yaitu ketua, wakil ketua, bendahara, sekertaris, koordinator 1, koordinator 2, dan koordinator 3 pendapat dalam jaringan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam mempengaruhi serta meningkatkan pastisipasi anggota paguyuban.

References

  1. “Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,” 08 Mei 2020. [Online]. Available: Https://Www.Kemkes.Go.Id/Article/View/20052900001/Vaksin-Covid-19-Belum-Ditemukan- Pemerintah-Siapkan-Skenario-New-Normal.Html. [Diakses 08 Desember 2020].
  2. “Analisa Hasil Survei Dampak COVID-19 terhadap perilaku usaha,” dalam Badan Pusat Statistika, Indonesia, BPS RI, 2021, p. 9.
  3. Tosim, Interviewee, Penyampaian Informasi New Normal keseluruh anggota paguyuban. [Wawancara]. 15 Juni 2020.
  4. Titik, Interviewee, Pendapat adanya penerapan new normal di Paguyuban Pedagang Wisata Pecalukan.
  5. [Wawancara]. 15 Juni 2020.
  6. “Jatim Dinyatakan Bebas Zona Merah Covid Hari Ini,” CNN Indonesia, 01 September 2021. [Online]. Available: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210901090025-20-688157/jatim-dinyatakan-bebas-
  7. zona-merah-covid-hari-ini. [Diakses 01 Oktober 2021].
  8. A. Jariyah, Pola Jaringan komunikasi dalam program Desa Melangkah Di Desa Kenongo Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo, Sidoarjo, 2018.
  9. A. Rosidi dan E. Nurcahyono, Penerapan New normal (Kenormalan Baru) dalam Penanganan COVID-19 Sebagai Pandemi dalam Hukum Positif, Indonesia, 2020.
  10. Rogers dan Kincaid, ommunication Netwarks: Toward a New Paradigm for Research, New York: The Free Press, 1981.
  11. Jogianto, Sistem Teknologi Informasi, Yogyakarta: Adi, 2005.
  12. Kurnia, Difusi Inovasi Jaring Pengusir Burung Pada Kelompok Tani, Indonesia, 2013.
  13. W. Mas'udi dan P. S. Winanti, New Normal : Perubahan Sosial Ekonomi dan Politik Akibat Covid-19, D.I Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2021.