<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Playing "Walk And Stop" and Expressive Writing to Reduce Children's Stress During the Covid Pandemic 19</article-title>
        <subtitle>Bermain "Walk And Stop" dan Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Stress Anak Saat Pandemi Covid 19</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-99ac6ee9153a5e0ed9bc58764152315a" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Budury</surname>
            <given-names>Syiddatul</given-names>
          </name>
          <email>syiddatbr@unusa.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-da880323daa46d3117a7e5f38fae8207" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Khamida</surname>
            <given-names>Khamida</given-names>
          </name>
          <email>syiddatbr@unusa.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2020-10-24">
          <day>24</day>
          <month>10</month>
          <year>2020</year>
        </date>
      </history>
      <abstract>
        <p id="paragraph-32be5ca9f559736590718f0ae586cfc3">
          <italic id="_italic-5">Covid-19 pandemics occur</italic>
          <italic id="_italic-6">s </italic>
          <italic id="_italic-7">all over the world</italic>
          <italic id="_italic-8">forcing children to </italic>
          <italic id="_italic-9">study</italic>
          <italic id="_italic-10">and play at home.</italic>
          <italic id="_italic-11">Staying at home for a long time </italic>
          <italic id="_italic-12">is a </italic>
          <italic id="_italic-13">risks </italic>
          <italic id="_italic-14">to </italic>
          <italic id="_italic-15">the occurance of stress due to limited physical activity, children are more often watching TV or playing gadgets</italic>
          <italic id="_italic-16">. </italic>
          <italic id="_italic-17">To reduce stress and boredom </italic>
          <italic id="_italic-18">and </italic>
          <italic id="_italic-19">to </italic>
          <italic id="_italic-20">improve children's body movements, it is necessary to do walk and stop playing activit</italic>
          <italic id="_italic-21">y</italic>
          <italic id="_italic-22">and </italic>
          <italic id="_italic-23">expressive writing</italic>
          <italic id="_italic-24">which can </italic>
          <italic id="_italic-25">decrease</italic>
          <italic id="_italic-26">stress and increase </italic>
          <italic id="_italic-27">not only </italic>
          <italic id="_italic-28">concentration </italic>
          <italic id="_italic-29">but also</italic>
          <italic id="_italic-30">reflexes of </italic>
          <italic id="_italic-31">a</italic>
          <italic id="_italic-32">child's body.</italic>
          <italic id="_italic-33">This activity was attended by 16 children aged 6-12 years old at Al Rasyid Alquran </italic>
          <italic id="_italic-34">Learning Center</italic>
          <italic id="_italic-35">, Bangkalan</italic>
          <italic id="_italic-36">. </italic>
          <italic id="_italic-37">The activities was </italic>
          <italic id="_italic-38">held </italic>
          <italic id="_italic-39">for two days. In day one, the childr</italic>
          <italic id="_italic-40">en wrote expressively in a book</italic>
          <italic id="_italic-41">about knowing children feeling</italic>
          <italic id="_italic-42">. In day two, they played walk and stop. Their stress level measured by using </italic>
          <italic id="_italic-43">perceived stress scale for children. </italic>
          <italic id="_italic-44">In pre test, 14 children was in mild stress level while in post test</italic>
          <italic id="_italic-45">, 8 children was </italic>
          <italic id="_italic-46">in mild stress level. </italic>
          <italic id="_italic-47">The result of this activit</italic>
          <italic id="_italic-48">ies</italic>
          <italic id="_italic-49">indicate</italic>
          <italic id="_italic-50">s</italic>
          <italic id="_italic-51">that children's stress is </italic>
          <italic id="_italic-52">decreas</italic>
          <italic id="_italic-53">ed. </italic>
          <italic id="_italic-54">Children and parents are expected to talk to each other more and to do physical activites together so that the children can develop and grow healthy.</italic>
        </p>
        <p id="paragraph-7a84d23e5d797b30996075dc1e9b3d8b">Pandemi Covid-19 terjadi hampir di seluruh dunia memaksa anak untuk belajar dan bermain di rumah. Tinggal di rumah dalam waktu yang cukup lama berisiko meningkatkan terjadinya masalah kesehatan mental, stres karena aktivitas fisik terbatas, anak lebih banyak berada di depan TV atau bermain <italic id="_italic-69">gadget</italic>. Untuk meminimalisir stres dan bosan serta meningkatkan gerak tubuh anak selama pandemi maka perlu dilakukan kegiatan bermain <italic id="_italic-70">walk and stop</italic> dan menulis eskpresif yang dapat mengurangi stres dan dapat meningkatkan konsentrasi dan reflek tubuh anak. Kegiatan ini diikuti oleh 16 anak usia 6-12 tahun di Taman Pendidikan Alquran Ar Rasyid, Bangkalan. Kegiatan dilakukan selama 2 hari, hari pertama menulis ekspresif di buku mengenal perasaan anak dan hari kedua bermain <italic id="_italic-71">walk and stop</italic>. Tingkat stres anak diukur menggunakan <italic id="_italic-72">perceived stress scale for children</italic> dengan nilai <italic id="_italic-73">pre test</italic> 14 anak mengalami stres ringan dan <italic id="_italic-74">post </italic><italic id="_italic-75">test</italic> didapatkan 8 orang mengalami stres ringan. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa stres anak berkurang. Anak dan orang tua diharapkan bisa lebih saling bercerita dan melakukan aktivitas fisik bersama sehingga anak tetap bisa tumbuh dan berkembang secara sehat.</p>
      </abstract>
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6c578eae64e6f745a91235f8364e6bf1">
      <title>
        <bold id="_bold-9">PENDAHULUAN </bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-14"><italic id="_italic-78">Corona virus disease</italic> (Covid) mulai merebak pada akhir Desember dimulai dari Wuhan China dan berlanjut menyebar ke seluruh dunia, virus covid ini menyerang sistem pernapasan manusia [1]. Penyebaran yang masif dan sifat virus yang mengancam nyawa manusia membuat beberapa negara melakukan <italic id="_italic-79">lockdown,</italic> Italia, China, Perancis [2]. Sejak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapakan status keadaan darurat bencana akibat virus Corona pada 29 Februari 2020 [3] sekolah ditutup yang membuat anak melakukan semua aktivitas harian di dalam rumah. Penarapan <italic id="_italic-80">lockdown</italic> dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan sekolah ditutup. Situasi pandemi covid-19 telah mengubah sistem pendidikan yang semula tatap muka langsung di kelas menjadi belajar dari rumah secara <italic id="_italic-81">online</italic>. Kondisi ini berdampak pada anak usia sekolah, anak-anak melakukan aktivitas sehari-hari di dalam rumah, tidak pergi ke sekolah, tidak bermain dengan teman di luar rumah, kondisi tersebut memicu terjadinya stres pada anak [4]. Stres adalah perasaan atau kondisi mental yang sedang penuh tekanan [5] kondisi stres bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan juga dipengaruhi oleh persepsi internal individu. Perasaan stres bisa termanifestasikan dalam bentuk perasaan negatif, sedih, merasa tertekan [6]. Tanda dan gejala yang paling sering muncul pada anak usia sekolah adalah gangguan tidur, susah konsentrasi terutama saat belajar [7] selain itu, kondisi stres pada anak bisa memicu keluhan fisik seperti sakit kepala dan sakit perut. Respon stres masing-masing anak berbeda, salah satu manifestasi stres yang bisa dikenali oleh orang tua adalah anak mengalami ketidakstabilan emosi, mudah marah dan menangis, nafsu makan menurun [8]</p>
      <p id="_paragraph-15">Taman Pendidikan Alquran (TPA) Ar Rasyid berada di kampung Sumber Anyar di bangkalan, di mana terdapat 18 Anak yang bergabung di TPA, kegiatan TPA pada saat normal dilakukan setiap hari dari jam 17.00 – 19.00, anak yang bergabung adalah anak usia sekolah mulai dari usia 5 -15 tahun. Sejak pandemi Covid-19 dan sekolah ditutup serta anjuran pemerintah untuk <italic id="_italic-82">physical distancing</italic> [9] maka kegiatan di TPA dilakukan setiap hari Selasa dan Jumat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah meninggalkan musholla dan jaga jarak selama kegiatan.</p>
      <p id="_paragraph-16">Mengacu pada kondisi dan situasi yang dialami anak selama belajar dari rumah, anak lebih sering menggunakan gawai untuk belajar <italic id="_italic-83">online</italic>, bermain <italic id="_italic-84">game</italic>, menonton<italic id="_italic-85"> youtube</italic> dan televisi serta, maka diperlukan kegiatan yang mampu mengurangi stres sehingga anak bisa kembali aktif bergerak, konsentrasi belajar baik dan segala emosi yang disimpan bisa diungkapkan, maka perlu diberikan kegiatan yang mampu meningkatkan gerakan motorik kasar dan halus pada anak serta mampu meningkatkan konsentrasi. Salah satu kegiatan yang bisa diberikan pada anak adalah dengan bermain <italic id="_italic-86">walk and stop</italic> dan menulis ekspresif. Bermain <italic id="_italic-87">walk and stop</italic> memungkinkan dilakukan ditengah pandemi karena permainan bisa dilakukan dengan tetap menjaga antara satu anak dengan anak yang lain, permainan in iuntuk melatih reflek dan konsentrasi anak serta gerak motorik kasar anak [10] sementara menulis ekspresif pada buku Mengenal Perasaan Anak diharapkan agar anak mampu mengeksplor perasaan yang dirasakan selama pandemi sehingga anak menjadi lebih terbuka dan mampu mengenal perasaannya sendiri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu membantu anak untuk tetap tumbuh dan berkembang secara optimal di tengah pandemi Covid-19 baik fisik maupun mental.</p>
      <sec id="heading-89033d1ad9793726ace016ec5f30ed07">
        <title>
          <bold id="_bold-10">METODE PELAKSANAAN </bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-18">Metode pelaksanaan dalam program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan selama dua hari, hari pertama yaitu pada tanggal 8 Juni 2020. Kegiatan dilakukan di TPA Ar Rasyid dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 16 anak yang berada di rentang usia 6-12 tahun, pada saat anak sudah berkumpul anak diberi penjelasan tentang tata cara pengisian buku “Menganal Perasaan Anak” dilanjut mengisi kuesioner tentang stres yang menggunakan <italic id="_italic-88">perceived stress scale for children</italic> yang sudah dalam bentuk bahasa Indonesia.</p>
        <p id="_paragraph-19">Buku Mengenal Perasaan Anak dirancang oleh penulis sebagai salah satu luaran pengmas. Buku terdiri dari beberapa bagian. Bagian awal adalah identitas diri anak, bagian 1 adalah pemikiran atau opini anak tentang kondisi pandemi Covid-19 saat ini, bagian 2 tentang apa yang anak tahu dan apa yang anak ingin tahu tentang Covid-19 dan tentang segala hal apa saja selama pandemi, bagian 3 tentang apa yang dilakukan anak ketika merasa takut, bagian 4 tentang memberikan perhatian dan peduli terhadap anggota keluarga, bagian 5 adalah membuat rencana kegiatan harian, bagian 6 adalah menuliskan siapa saja yang peduli dan perhaian pada anak dan apa kira-kira yang bisa dilakukan bersama, bagian 7 adalah menuliskan siapa saja yang membuat anak merasa aman, nyaman dan sehat, bagian 8 adalah tentang hal-hal apa saja yang bisa mengganggu perasaan anak, bagian 9 adalah menuliskan hal apa saja yang menyenangkan yang dilakukan anak, bagian 10 adalah menuliskan apa yang berubah dan tidak berubah sebelum dan sesudah pandemi yang nantinya akan berakhir dan bagian 11 adalah menulis tentang harapan di masa depan. Pada masing-masing bagian terdapat gambar berwarna diserta narasi deskriptif yang memberi informasi dan pengetahuan. Terdapat beberapa opsi pilihan jawaban yang anak bisa lingkari dan sisanya anak bisa menuliskan pikiran dan perasaannya sendiri. Setelah anak mengisi buku Mengenal Perasaan Anak, fasilitator kemudia secara acak meminta anak untuk membacakan tulisannya di depan, secara bergantian, dan dilanjut diskusi bersama.</p>
        <p id="_paragraph-21">Gambar 1 : Buku Mengenal Perasaan Anak</p>
        <p id="_paragraph-22">Kegiatan hari kedua yaitu pada 9 Juni 2020 anak melakukan permainan <italic id="_italic-90">walk and stop</italic>. Aturan permainan ini adalah pada gerakan pertama anak disaranakan berdiri dengan tetap berjarak satu sama lain, setiap mendengar kata <italic id="_italic-91">walk </italic>anak harus berjalan, dan setiap mendengar kata <italic id="_italic-92">stop</italic> anak harus berhenti, gerakan kedua adalah setiap mendengar kata <italic id="_italic-93">walk</italic> anak harus berhenti dan setiap mendengar kata <italic id="_italic-94">stop</italic> anak harus berjalan, gerakan ke-2 ini memberikan kesempatan pada anak untuk memusatkan konsentrasi pada perintah. Gerakan ketiga adalah anak terus berjalan sambil tetap mematuhi <italic id="_italic-95">walk</italic> dan <italic id="_italic-96">stop </italic>ditambah harus menyebutkan namanya sendiri tiap kali fasilitator mengucapkan kata nama. Gerakan keempat adalah anak tetap mematuhi <italic id="_italic-97">walk</italic> dan<italic id="_italic-98"> stop</italic> serta menyebut nama ditambah anak harus tepuk tangan ketika fasilitator mengucapkan kata tepuk tangan. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Kuesioner stres diberikan saat permainan sudah selesai.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-d6e6759ebf778761013b579e823f3944">
        <title>
          <bold id="_bold-11">PEMBAHASAN </bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-24">Gambaran demografi peserta pengabdian masyarakat ini bisa dilihat pada tabel berikut :</p>
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Distribusi frekuensi jenis kelamin, usia dan tingkat stres anak di TPA Ar Rasyid Bangkalan Juni 2020</title>
            <p id="_paragraph-26"><italic id="_italic-99">Sumber : Data Primer, 2020</italic>.</p>
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-92c1005f9efc323e95c739e71a456948">
                <td id="table-cell-6815f8abf23d8da33fc82c4c4ee34644">Variabel</td>
                <td id="table-cell-9a8fad39c7b40f0c93b0b501d7f3aaa1">Frekuensi (n=16)</td>
                <td id="table-cell-558b1966dd975c2510323e03134f3926">Persentase (%)</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-652368316ccd5d24a030c0420547f246">
                <td id="table-cell-d33212df6fbbf5ce27ffd57c6daac77e">Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan</td>
                <td id="table-cell-564b1bed833033659e12702c30d63e48">79</td>
                <td id="table-cell-72a3a67f4b7a96d1c5aca0ce77aa9207">43.7556. 25</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4798c2329c9d92d7b7cb4d006b2cf8ba">
                <td id="table-cell-0502c11369bc04bf745b102417f45df0">Usia 6 -7 tahun 8-9 tahun 10-12 tahun</td>
                <td id="table-cell-7af50c09dc31fbf2fb57ede930d4bbaf">466</td>
                <td id="table-cell-c8bba1728747a0f10725d64de1650c7b">2537.537.5</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-1cbb4ef3465e00b67fb88451c45eca70">
                <td id="table-cell-75cdf1c6d6a12b4be6b9c20342a6c402">Tingkat Stres (Pre Test) Tidak Stres Ringan Sedang Berat </td>
                <td id="table-cell-6ca778d522f607cdbbe9bc71156577f7">11410</td>
                <td id="table-cell-2a0cafd622349ae308c4bd896b743c15">6.2587.56.25</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8e248b3012b64e6d1e7f62e3ae66d7e0">
                <td id="table-cell-d356791bbf6778722433eb7891625339">Tingkat Stres (Post Test) Tidak Stres Ringan Sedang Berat</td>
                <td id="table-cell-9b9a0fe2de9f1ac20983666ca6099c4c">7810</td>
                <td id="table-cell-66446e1a1f7864a0a7eba01fbd7725d3">43.75506.25</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-28">Dari tabel 1 diatas didapatkan bahwa mayoritas anak yang mengikuti kegiatan berada di usia 8-12 tahun dengan jenis kelamin perempuan, pada saat <italic id="_italic-100">pre test</italic> terdapat 14 anak stres ringan dan pada saat <italic id="_italic-101">post test</italic> terdapat 8 anak stres ringan. Hasil penelitian yang dilakukan di China menunjukkan bahwa anak usia sekolah rentan mengalami stres yang dipicu oleh rasa bosan, kurangnya komunikasi dengan teman sekelas, serta informasi yang tidak adekuat tentang perkembangan covid-19 [11].</p>
        <p id="_paragraph-29">Bermain adalah adalah bagian dari proses pertumbuhan dan perkembangan anak, banyak permainan yang dapat merangsang perkembangan motorik kasar, motorik halus dan kemampuan personal sosial anak. Terapi bermain mampu meningkatkan kinerja dan fungsi otak, terutama dalam aspek kognitif, bahasa dan psikomotor [12]. Selain itu bermain bisa mengurangi rasa ketidaknyamanan dan stress yang dirasakan anak [13] serta bisa mengurangi kebosanan selama fase anak belajar di rumah. Bermain <italic id="_italic-102">walk and stop</italic> bisa meningkatkan konsentrasi dan reflek anak, karena anak akan berusahan mendengar dan mencerna perintah dari pemimpin permainan sehingga anak tidak salah apakah dia akan berhenti atau melangkah. Saat berjalan maka otot akan mengalami peregangan yang dapat menurunkan ketegangan tubuh dan otak akan lebih relaks sehingga mampu menurunkan stres [14]</p>
        <p id="_paragraph-30">Selain bermain, meningkatkan komunikasi dengan keluarga, dan teman juga mampu mengurangi stres, [15] salah satu komunikasi yang bisa diterapkan dalam keluarga selain komunikasi verbal dengan orang tua dan anggota keluarga yang lain, anak bisa menulis dan mengungkapkan perasaan yang dirasakan. Menulis segala sesuatu berdasar pengalaman yang dirasakan bisa menjadi bagian dari terapi emosi [16]. Penelitian yang dilakukan di Eropa membuktikan bahwa menulis ekspresif mampu menurunkan stres dan mengurangi gejala depresi [17] menulis bisa meningkatkan aspek positif individu, baik secara fisik maupun mental [18].</p>
      </sec>
      <sec id="heading-a3ba85bba33406b3efca85d50b3cb77d">
        <title>
          <bold id="_bold-30">KESIMPULAN</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-32">Bermain <italic id="_italic-103">walk and stop</italic> serta menulis ekspresif di buku Mengenal Perasaan Anak mampu menurukan stres dan meningkatkan konsentrasi dan reflek anak. Fase usia sekolah yaitu usia 6-12 tahun adalah salah satu fase di mana keterampilan motorik halus seperti membaca dan menulis sedang mengalami perkembangan, demikian halnya dengan motorik kasar seperti berjalan dan berlari sehingga meski pandemi Covid-19 sedang berlangsung, dan anak bisa belajar dari rumah tanpa stres dan bisa tetap tumbuh secara sehat dan optimal.</p>
      </sec>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>