<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Improving the Psychological Well-Being of Post-Pandemic Students through Optimistic Thinking Training</article-title>
        <subtitle>Meningkatkan Psychological Well-Being Mahasiswa Paska Pandemi Covid-19 Melalui Pelatihan Berpikir Optimis</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-97d143d69cdbd11b16034128f6559d1d" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Kamaratih</surname>
            <given-names>Dewi</given-names>
          </name>
          <email>dk939@umkt.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-8ff6a77ed2e52be744996ee7154b653d" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Rukmana</surname>
            <given-names>Gilang Mukti</given-names>
          </name>
          <email>dk939@umkt.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-76a8052dee9ad54066dccbab67faff9f" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Haq</surname>
            <given-names>Alfiza Fakhriya</given-names>
          </name>
          <email>dk939@umkt.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-06-22">
          <day>22</day>
          <month>06</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-381a05b01c6da7e25ade6c01b42a47fe">
      <title>
        <bold id="bold-c481b45e02cd76cd944021b00cdc35f9">PENDAHULUAN </bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-13">Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia mengenai Pendidikan Tinggi tahun 2012, mahasiswa adalah salah satu anggota masyarakat yang berusaha untuk mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang telah tersedia pada jenjang perguruan tinggi maupun jenis pendidikan tertentu, serta merupakan individu yang berkewajiban untuk meraih prestasi akademis. Mahasiswa memiliki peran untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya dengan baik sesuai harapan [1]. Perguruan tinggi bagi sebagian besar mahasiswa adalah tempat yang penuh keraguan, kecemasan, bahkan kegagalan [2].</p>
      <p id="_paragraph-14">Pengalaman kurang menyenangkan yang dirasakan mahasiswa di perguruan tinggi dapat menjadi sumber stres yang signifikan dan dapat mengurangi kualitas hidup bagi peserta didik [3]. Paska pandemi Covid-19, mahasiswa dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan proses belajar yang sebelumnya dilakukan secara daring, baik tatap muka dengan dosen maupun pengumpulan tugas kuliah menjadi <italic id="_italic-233">hybrid </italic>(daring dan luring). Hal ini menyebabkan mahasiswa dituntut untuk melakukan adaptasi karena perubahan rutinitas. Pada saat mahasiswa harus melakukan adaptasi maka energi yang dikeluarkan menjadi jauh lebih besar, hal ini dapat menimbulkan kejenuhan, maka ia akan merasa tidak memiliki hubungan sosial yang baik dan aktualisasinya di kampus seolah-olah diabaikan. Selain itu, kebijakan belajar dari rumah selama pandemi Covid-19 serta merta menghentikan sementara seluruh kegiatan kemahasiswaan di kampus dan untuk memulai kembali bukanlah sebuah aktivitas yang mudah.</p>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian yang dilakukan sebelumnya [4] menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan mahasiswa terhadap kegiatan kampus maka akan semakin tinggi pula <italic id="_italic-234">well-being</italic>yang dimiliki, sebaliknya semakin kurangnya waktu untuk terlibat dengan kegiatan kampus maka semakin rendah pula <italic id="_italic-235">well-being</italic> yang dimiliki. Ketika <italic id="_italic-236">well-being</italic> yang dimiliki mahasiswa rendah, maka akan menurunkan kualitas hidup serta menghambat kemampuannya untuk melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar khususnya lingkungan perkuliahan. Paska pandemic Covid-19, mahasiswa dituntut untuk mampu melakukan penyesuaian dengan kehidupan kampus serta metode perkuliahan yang sebelumnya dilakukan secara daring menjadi luring. Penelitian lain [5] menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara penyesuaian diri dengan kualitas hidup serta kesejahteraan individu dalam menjalin hubungan pertemanan. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan suatu upaya intevensi yang dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan kualitas hidup di masa pandemi ini. Penelitian ini menyoroti pentingnya berpikir optimis dalam meningkatkan <italic id="_italic-237">psychological </italic><italic id="_italic-238">well-being</italic> dan kualitas hidup mahasiswa. Penelitian lain menunjukkan efektifitas dari intervensi berpikir optimis dalam meningkatkan <italic id="_italic-239">p</italic><italic id="_italic-240">sychological</italic><italic id="_italic-241">w</italic><italic id="_italic-242">ell</italic><italic id="_italic-243">-</italic><italic id="_italic-244">b</italic><italic id="_italic-245">eing</italic>mahasiswa secara signifikan [6]. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti bermaksud untuk mengaplikasikan pelatihan berpikir optimis untuk membantu meningkatkan <italic id="_italic-246">p</italic><italic id="_italic-247">sychological</italic><italic id="_italic-248">w</italic><italic id="_italic-249">ell</italic><italic id="_italic-250">-</italic><italic id="_italic-251">b</italic><italic id="_italic-252">eing</italic>mahasiswa paska pandemi Covid-19.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-62ffa65fdf13e880aab0dae1fdc24f9e">
      <title>
        <bold id="bold-643eb305d54fc75f9c58a983001bfa7c">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-16">Kegiatan pelatihan berpikir optimis dilaksanakan dengan melihat hasil analisis kebutuhan mitra. Hasil ini selanjutnya menjadi acuan pelaksanaan pelatihan serta kedalaman materi yang diberikan. Sasaran dari pelatihan ini adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) yang memiliki skor <italic id="_italic-253">psychological well-being </italic>yang rendah berdasarkan hasil pretes. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam beberapa sesi secara <italic id="_italic-254">hybrid </italic>(daring dan luring).</p>
      <p id="_paragraph-17">Kegiatan pelatihan dilakukan secara daring dan luring dengan metode diskusi dan aktivitas-aktivitas yang menstimulasi serta menambah keterampilan mahasiswa dalam meningkatkan <italic id="_italic-255">psychological well-</italic><italic id="_italic-256">being</italic>nya. Secara rinci kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : memperoleh kesedian subjek dengan memberikan <italic id="_italic-257">informed consent</italic><italic id="_italic-258">; </italic>pelaksanaan <italic id="_italic-259">pre-test </italic>menggunakan skala <italic id="_italic-260">psychological well-being </italic>yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Ryff [7]; pelaksanaan intervensi berpikir optimis selama 2 kali pertemuan yang dilakukan secara daring. Materi yang diberikan terdiri dari optimisme, dialog internal, <italic id="_italic-261">self acceptance</italic><italic id="_italic-262">, explanatory style, </italic>disputasi, dan energisasi. Setiap pertemuan dilakukan selama 120 – 160 menit; pelaksanaan <italic id="_italic-263">post-test </italic>setelah tahap intervensi selesai dengan menggunakan skala <italic id="_italic-264">psychological well-being </italic>yang bertujuan untuk melihat perubahan skor <italic id="_italic-265">psychological well-being </italic>setelah mengikuti proses intervensi; tahap <italic id="_italic-266">follow up </italic>untuk melihat apakah pengaruh dari intervensi yang telah dilakukan masih bertahan atau mengalami penurunan.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>
        <bold id="bold-5033d0a231a8a752dee7bbbd45c7964d">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-18">Kegiatan intervensi berpikir optimis dilakukan secara <italic id="_italic-267">hybrid</italic> kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Peserta pelatihan merupakan mahasiswa yang sebelumnya telah mengisi skala psikologi dimana hasil skala tersebut menunjukkan tingkat <italic id="_italic-268">psychological well-being </italic>mahasiswa dalam kategori rendah dan sedang. Intervensi dilakukan dalam dua kali pertemuan secara daring. Pertemuan pertama diawali dengan memberikan dengan materi optimisme yang berisi dasar-dasar berpikir optimis dan kisah-kisah inspiratif dari tokoh-tokoh yang bertujuan untuk memberikan gambaran serta <italic id="_italic-269">insight </italic>kepada peserta. Selanjutnya dilanjutkan dengan materi dialog internal dimana peserta diajak untuk mengevaluasi kondisi diri dan apa yang akan dilakukan dimasa depan. Materi ketiga adalah <italic id="_italic-270">self acceptance</italic>yang bertujuan untuk melatih peserta agar dapat menerima kondisi diri saat ini dan di masa lampau.</p>
      <p id="_paragraph-19">Pertemuan kedua diawali dengan materi <italic id="_italic-271">explanatory style </italic>yang bertujuan melatih peserta untuk mencoba bermacam-macam gaya dalam menjelaskan keinginannya secara efektif dan efisien. Materi selanjutnya adalah disputasi yang mengajarkan peserta untuk memilih pernyataan-pernyataan terbaik diatara sekian banyak pernyataan atau hal-hal yang ingin ia ungkapkan. Materi terakhir adalah energisasi, dimana peserta dilatih untuk menghimpun energi-energi positif dan mengabaikan energi negative baik yang berasal dari internal maupun eksternal.</p>
      <fig id="figure-panel-bd5f6625a85f42dfd9af69376e49f57b">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Tingkat <italic id="_italic-272">Psychological Well-Being </italic><italic id="_italic-273">Peserta</italic></title>
          <p id="paragraph-e54400f8d964e6d229da55cd97c7553b" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-559d5f3ac35c78a385152700e967db26" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="R..png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-21">Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan <italic id="_italic-274">psychological well-being</italic>yang signifikandari para peserta yang terlihat dari hasil post-test yang diberikan kepada peserta. Namun ketika dilakukan <italic id="_italic-275">follow up, </italic>hasil mengalami sedikit penurunan. Peningkatan pada hasil post-test dipengaruhi oleh adanya pengetahuan baru yang diperoleh peserta melalui pelatihan. Sedangkan penurunan yang terjadi pada tahap <italic id="_italic-276">follow up </italic>disebabkan oleh rentang waktu yang Panjang antara masa pelatihan dan <italic id="_italic-277">follow up </italic>sehingga pengetahuanbaru yang telah diperoleh melalui pelatihan tidak menetap lama di beberapa peserta.</p>
      <p id="_paragraph-22">Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin sebagai upaya membantu mahasiswa untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Selanjutnya, kegiatan ini akan diselenggarakan dalam rangka penyelesaian permasalahan psikologis remaja dengan skala yang lebih luas.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>
        <bold id="bold-869708a31c21c9db29fc8d0e9ad9afbc">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-23">Kegiatan ini menunjukkan hasil bahwa pelatihan berpikir optimis efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologismahasiswa secara signifikan. Terjadi peningkatan kesejahteraan psikologis yang signifikan pada kelompok mahasiswa yang diberi perlakuan berupa pelatihan berpikir optimis. Pelatihan berpikir optimis tidak hanya memberikan keterampilan pada mahasiswa dalam melakukan rekonstruksi kognitif, tetapi juga memberikan mahasiswa keterampilan untuk menyusun sebuah tujuan masa depan yang dapat mendorong penerimaan diri.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>