<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Improving the Quality of Santri Education Through Technopreneurship Combined with Digital Marketing at AIBS Sumberrejo Islamic Boarding School in Bojonegoro</article-title>
        <subtitle>Peningkatan Mutu Pendidikan Santri Melalui Technopreneurship Yang Dipadukan Dengan Digital Marketing Di Pondok AIBS Sumberrejo Bojonegoro</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-9cdee588d3b9e659d6d7cc847530d36e" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Rofiqoh</surname>
            <given-names>Yusnia I’anatur</given-names>
          </name>
          <email>ianayusnia@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-07-16">
          <day>16</day>
          <month>07</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6761dda374ad5808a76588515eea4fa7">
      <title>
        <bold id="bold-1c1e9b3ee52f6582834f3b50715d3db7">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-8">Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah lama menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang religius, berkarakter, dan memiliki integritas moral tinggi[1][2][3]. Namun, seiring perkembangan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi informasi, pondok pesantren dituntut untuk mampu beradaptasi dengan tantangan era digital[4]. Santri tidak hanya harus menguasai ilmu-ilmu agama, tetapi juga perlu dibekali dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat modern. Oleh karena itu, inovasi dalam sistem pendidikan pesantren menjadi suatu keniscayaan agar para santri dapat menjadi agen perubahan yang berdaya saing tinggi[5][6][7].</p>
      <p id="_paragraph-9">Salah satu bentuk inovasi yang potensial untuk diintegrasikan dalam pendidikan pesantren adalah technopreneurship, yakni kewirausahaan yang berbasis pada pemanfaatan teknologi[8][9]. Technopreneurship memungkinkan santri untuk menciptakan produk atau jasa berbasis teknologi, seperti aplikasi digital, layanan daring, maupun produk kreatif berbasis internet. Dalam konteks ini, technopreneurship tidak hanya menjadi sarana pemberdayaan ekonomi, tetapi juga wahana pembelajaran praktis yang melatih kemandirian, inovasi, dan problem solving. Santri yang terlibat dalam technopreneurship secara langsung akan memahami bagaimana mengidentifikasi peluang, merancang produk, hingga melakukan evaluasi pasar[10][11][12].</p>
      <p id="_paragraph-10">Namun, technopreneurship saja tidak cukup. Kemampuan untuk memasarkan produk secara efektif juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan suatu usaha[13][14]. Di sinilah pentingnya digital marketing sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh santri di era digital. Digital marketing mencakup berbagai strategi pemasaran melalui kanal digital seperti media sosial, e-commerce, website, dan platform digital lainnya[15][16][17]. Dengan menguasai digital marketing, santri dapat memperluas jangkauan pasar, meningkatkan daya saing produk, serta memperkuat personal branding maupun branding institusional pesantren[18][19].</p>
      <p id="_paragraph-11">Pondok AIBS (Aisyiyah Islamic Boarding School) Sumberrejo Bojonegoro merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah mencoba mengintegrasikan technopreneurship dan digital marketing dalam kegiatan pendidikan santrinya[20]. Beberapa program pelatihan telah dilakukan, mulai dari pelatihan pembuatan konten digital, pelatihan pembuatan produk UMKM, hingga workshop pengelolaan media sosial dan toko daring. Meskipun demikian, proses implementasi program ini tentu tidak berjalan tanpa hambatan. Masih banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan bagi tenaga pengajar, hingga minimnya pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran sehari-hari[21][22][23].</p>
      <p id="_paragraph-12">Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak untuk meningkatkan mutu pendidikan santri agar lebih adaptif terhadap tantangan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana integrasi technopreneurship dan digital marketing mampu meningkatkan kompetensi dan daya saing santri. Dengan mengetahui potensi, tantangan, dan strategi yang tepat dalam mengimplementasikan konsep ini, diharapkan pondok pesantren, khususnya Pondok AIBS Sumberrejo Bojonegoro, dapat merumuskan model pendidikan yang lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan zaman. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi pesantren lain dalam mengembangkan program pendidikan berbasis technopreneurship dan digital marketing[24].</p>
      <p id="_paragraph-13">
        <bold id="_bold-12">Pembahasan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-14">Technopreneurship merupakan kombinasi antara teknologi dan kewirausahaan yang menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan globalisasi dan perkembangan digital[25]. Dalam konteks pendidikan pesantren, technopreneurship tidak hanya meningkatkan keterampilan santri dalam mengelola usaha berbasis teknologi, tetapi juga mendorong kreativitas, inovasi, serta kemandirian. Menurut [3], technopreneurship dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pesantren melalui pembelajaran berbasis projek.</p>
      <p id="_paragraph-15">Digital marketing mencakup berbagai aktivitas pemasaran yang dilakukan melalui media digital seperti media sosial, email marketing, website, dan aplikasi mobile. Pemahaman tentang strategi digital marketing penting dalam menghadapi pasar global yang semakin kompetitif. Menurut [2], kompetensi digital marketing memungkinkan individu untuk memperluas jangkauan pemasaran dan meningkatkan efektivitas komunikasi dengan konsumen[26].</p>
      <list list-type="bullet" id="list-b5f1091bb2a560c20c73bb6713b4495f">
        <list-item>
          <p>Technopreneurship dalam Pendidikan Pesantren</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Digital Marketing sebagai Keterampilan Masa Depan</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Integrasi Technopreneurship dan Digital Marketing dalam Pendidikan</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="paragraph-b98acaa35ff2fa317e3faad745f196d7">Kombinasi antara technopreneurship dan digital marketing merupakan pendekatan strategis dalam menciptakan pendidikan berbasis ekonomi kreatif. Dalam konteks pendidikan pesantren, pendekatan ini dapat menjadi alternatif model pembelajaran berbasis praktik, yang memungkinkan santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengaplikasikan keterampilan secara langsung. Menurut [5], integrasi ini meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi dunia kerja dan mendorong munculnya wirausaha muda berbasi[27].</p>
      <p id="paragraph-9357e757ba674447b3b6405769429bf5">Tujuan dan Manfaat Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-17">1. Menganalisis implementasi technopreneurship dalam kegiatan pendidikan santri di Pondok AIBS Sumberrejo Bojonegoro.</p>
      <p id="_paragraph-18">2. Mengevaluasi efektivitas penggunaan digital marketing dalam mendukung kegiatan technopreneurship santri.</p>
      <p id="_paragraph-19">3. Merumuskan strategi pengembangan program pendidikan yang integratif antara technopreneurship dan digital marketing untuk meningkatkan mutu santri.</p>
      <list list-type="bullet" id="list-ea74784e3847b3844bc9350d03a6c122">
        <list-item>
          <p>Bagi Santr Memberikan keterampilan praktis dan mindset kewirausahaan berbasis teknologi serta meningkatkan daya saing di era digital.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bagi Pondok Pesantren: Membantu pesantren beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menyusun kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bagi Masyarakat: Memberikan kontribusi dalam mencetak generasi muda yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
    <sec id="heading-08009bb67286bc4acbf9867eaefe7403">
      <title>
        <bold id="bold-2b90a0b92c425d460e14ac0bab8c6421">Metode </bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-20">1. Pendekatan dan Jenis Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-21">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan tujuan menggambarkan dan menganalisis fenomena secara mendalam berdasarkan realitas lapangan. Jenis penelitian ini sesuai digunakan untuk memahami proses integrasi technopreneurship dan digital marketing dalam pendidikan santri.</p>
      <p id="_paragraph-22">2. Lokasi Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-23">Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren AIBS (Aisyiyah Islamic Boarding School) yang berlokasi di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 3. Subjek dan Informan Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-24">Subjek penelitian meliputi santri, pengelola pondok pesantren, guru pembimbing program technopreneurship, dan praktisi digital marketing. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria keterlibatan langsung dalam program yang diteliti[28].</p>
      <p id="_paragraph-25">4. Teknik Pengumpulan Data</p>
      <p id="_paragraph-26">Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap aktivitas santri dalam kegiatan technopreneurship dan pelatihan digital marketing. Wawancara dilakukan kepada informan kunci terkait pelaksanaan dan hasil program. Dokumentasi berupa hasil karya santri, foto kegiatan, serta dokumen pendukung lainnya[29].</p>
      <p id="_paragraph-27">5. Teknik Analisis Data</p>
      <p id="_paragraph-28">Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman (2014), yang terdiri dari tiga langkah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan merangkum informasi penting dari hasil wawancara dan observasi. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi, tabel, dan gambar. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pola-pola temuan dan triangulasi antar sumber data[30].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-89e634e00881b04712c3938e31145d0e">
      <title>
        <bold id="bold-27ddfceda5373228794a63fff9f8a4d9">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-29">1. Implementasi Technopreneurship di Pondok AIBS</p>
      <p id="_paragraph-30">Pondok AIBS telah memulai langkah-langkah inovatif dalam mengintegrasikan technopreneurship ke dalam kegiatan belajar santri. Beberapa program unggulan seperti pelatihan pembuatan produk olahan makanan, kerajinan tangan, hingga aplikasi digital sederhana telah dilakukan. Santri didorong untuk berkolaborasi, menyusun rencana bisnis, dan menjalankan mini proyek usaha yang dikelola sendiri.</p>
      <p id="_paragraph-31">2. Penerapan Digital Marketing oleh Santri</p>
      <p id="_paragraph-32">Pelatihan digital marketing dilakukan dengan menggandeng praktisi lokal dan alumni pondok yang telah sukses di dunia usaha daring. Materi pelatihan meliputi pengelolaan media sosial, copywriting, desain grafis dasar, serta optimalisasi toko daring di platform seperti Shopee dan Tokopedia. Beberapa santri bahkan telah berhasil memasarkan produk mereka secara mandiri.</p>
      <p id="_paragraph-33">3. Tantangan dalam Integrasi Program</p>
      <p id="_paragraph-34">Tantangan utama dalam pelaksanaan program adalah keterbatasan fasilitas teknologi, keterampilan guru dalam bidang digital, serta motivasi santri yang masih beragam. Beberapa guru belum terbiasa menggunakan media digital, sehingga perlu dilakukan pelatihan intensif. Selain itu, perlu ada pendampingan yang berkelanjutan agar program berjalan konsisten.</p>
      <p id="_paragraph-35">4. Dampak terhadap Mutu Pendidikan Santri</p>
      <p id="_paragraph-36">Integrasi program ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan non-akademik santri, seperti kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan pengambilan keputusan. Beberapa santri yang aktif dalam program juga mengalami peningkatan kepercayaan diri dan mulai menunjukkan orientasi masa depan yang lebih jelas.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-c31ce18e19bcbb4df17beab9f0a9bf53">
      <title>
        <bold id="bold-1210aaa25456e6a15155053494bfecf8">Simpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-37">1. Simpulan</p>
      <p id="_paragraph-38">Integrasi technopreneurship dan digital marketing dalam pendidikan santri di Pondok AIBS Sumberrejo Bojonegoro telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam aspek keterampilan hidup, kemandirian, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Program ini menjadi jembatan antara pendidikan tradisional dan tuntutan dunia modern yang serba digital</p>
      <p id="_paragraph-39">2. Saran</p>
      <p id="_paragraph-40">-Pondok AIBS perlu memperkuat dukungan infrastruktur teknologi dan meningkatkan kapasitas guru dalam bidang technopreneurship dan digital marketing.</p>
      <p id="paragraph-38e8e9188dc28d2d1001cf6395842ff9">-Pelatihan harus dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan agar santri memiliki kompetensi yang lebih mendalam.</p>
      <p id="_paragraph-41">-Perlu adanya kolaborasi dengan pihak luar seperti perguruan tinggi, praktisi industri, dan pemerintah untuk mendukung pengembangan program secara lebih luas.</p>
      <p id="paragraph-ea973363c9398121bbc0dbf0ab9d061e" />
      <p id="paragraph-b9236578e1700ab665ead6ef00e25e07">
        <bold id="bold-01c7cbbfd68ca34bca57add0b7c95a2a">Lampiran</bold>
      </p>
      <fig id="figure-panel-a1a3e5cdd5a769b529472092c64dc951">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-72c3c4f7671a4fbc035010f40003c1d2" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-bddaef107549acf35a773783598d1d8e" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="1.jpg" />
      </fig>
      <fig id="figure-panel-fb2bc24915d00502df33628ccea3d123">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-23fdbf0a32104d0ad133011ed328df52" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-24885a5b7e4eaae93071ee4f23e222fd" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="2.jpg" />
      </fig>
      <fig id="figure-panel-b8466acfe36ffdb35e752cd425041ae0">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-ebd0108cb056d9b3caef571194cba78f" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-0d32ffbf40f4d2926cffce6d0c14d94d" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="3.jpg" />
      </fig>
      <fig id="figure-panel-134840dcd11a15dd0f96e06f794a6b03">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-16e81bd11f1bc36151866ded69cacbf2" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-f3bff640d6a95d3c3431a0f8ee3e2f26" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="4.jpg" />
      </fig>
      <p id="paragraph-08a737825016e869c26cc44c4ca20091" />
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>