<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Empowering Muhammadiyah Cadres for Da'wah-Based Digital Transformation in Multicultural Communities</article-title>
        <subtitle>Pemberdayaan Kader Muhammadiyah untuk Transformasi Digital Berbasis Dakwah di Komunitas Multikultural</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-12dc7c59dc67dd52feaf2731c36fec70" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Sinduwiatmo</surname>
            <given-names>Kukuh</given-names>
          </name>
          <email>kukuh1@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-a6ddaed7913dc56c4d24bd381596b4c7" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Wardana</surname>
            <given-names>Mahardika Darmawan Kusuma</given-names>
          </name>
          <email>mahardikadarmawan@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-d733e984d9212905b8b1947abcf215d4" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Widyastuti</surname>
            <given-names>Widyastuti</given-names>
          </name>
          <email>widyastuti1@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-05-05">
          <day>05</day>
          <month>05</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6adb4e493099b6627a82e771550720d6">
      <title>
        <bold id="bold-f7cbe55d152750427e2640f6cd5c92b4">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-7">Era transformasi digital telah membawa perubahan signifikan di berbagai sektor, termasuk sektor pertanian. Di tengah perkembangan teknologi informasi, produk pertanian memiliki peluang besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui digitalisasi [1]. Namun, di wilayah-wilayah dengan karakteristik multikultural seperti Bromo Tengger, tantangan dalam mengadopsi teknologi digital masih cukup tinggi [2]. Keterbatasan literasi digital, akses terhadap teknologi, dan perbedaan budaya menjadi hambatan utama bagi para petani dan komunitas lokal dalam memasarkan produk pertanian mereka secara digital. Dalam konteks ini, kader Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan pendidikan komunikasi dan dakwah.</p>
      <p id="_paragraph-8">Meskipun berbagai program pemberdayaan telah dilakukan di komunitas petani, masih terdapat kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi digital secara berkelanjutan. Banyak program hanya berfokus pada pelatihan teknis tanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan keberlanjutan. Kader Muhammadiyah yang memiliki basis keagamaan dan sosial yang kuat dapat menjadi katalisator untuk mendampingi masyarakat dalam proses transformasi digital yang inklusif [3]. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendidikan komunikasi dan dakwah sebagai pendekatan holistik untuk memberdayakan komunitas petani di lingkungan multikultural Bromo Tengger, di mana interaksi budaya dan nilai keagamaan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari.</p>
      <p id="_paragraph-9">Tujuan dari kegiatan ini adalah memberdayakan kader Muhammadiyah dalam mengembangkan keterampilan digital dan kemampuan komunikasi yang efektif untuk mendukung transformasi digital produk pertanian. Implikasi dari kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kader Muhammadiyah sebagai agen perubahan di komunitas, memperkuat jaringan pemasaran digital produk pertanian, dan mendorong terbentuknya ekosistem digital yang berkelanjutan di lingkungan multikultural Bromo Tengger. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta sinergi antara nilai-nilai keislaman, kemajuan teknologi, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas [4].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-ca3123b3d07eaed8c5a663436b25ae55">
      <title>
        <bold id="bold-de5fb276bbf95e81b27f44d9e24ccde2">Metode</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-11">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode partisipatori untuk memahami dan memberdayakan kader Muhammadiyah dalam proses transformasi digital produk pertanian. Populasi dalam penelitian ini adalah kader Muhammadiyah di wilayah Bromo Tengger yang memiliki keterlibatan aktif dalam kegiatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat [5]. Sampel diambil secara purposive, dengan kriteria kader yang memiliki motivasi tinggi dan kesiapan untuk mengembangkan keterampilan digital.</p>
      <p id="_paragraph-12">Instrumen yang digunakan meliputi panduan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi kegiatan. Wawancara dilakukan secara tatap muka untuk menggali pemahaman kader tentang digitalisasi, tantangan yang dihadapi, serta strategi komunikasi dan dakwah yang digunakan dalam lingkungan multikultural. Observasi dilakukan selama pelaksanaan program pelatihan digital dan dakwah, yang mencakup proses pembelajaran, interaksi sosial, dan penerapan teknologi digital dalam pemasaran produk pertanian. Dokumentasi mencakup catatan lapangan, hasil evaluasi, dan produk digital yang dihasilkan oleh peserta.</p>
      <p id="_paragraph-13">Prosedur kegiatan terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, tahap persiapan yang meliputi identifikasi kebutuhan, penyusunan modul pelatihan, dan koordinasi dengan komunitas lokal. Kedua, tahap pelaksanaan yang mencakup pelatihan intensif tentang literasi digital, strategi komunikasi dakwah, dan praktik pemasaran digital. Pelatihan dilakukan selama tiga bulan dengan pertemuan mingguan, melibatkan narasumber ahli di bidang teknologi digital dan komunikasi dakwah. Ketiga, tahap evaluasi yang dilakukan melalui refleksi partisipatif dan penilaian hasil kerja peserta untuk menilai efektivitas pemberdayaan dan dampak terhadap komunitas.</p>
      <p id="_paragraph-14">Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi pola-pola utama dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validitas dan reliabilitas data dijamin melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu, di mana data dari berbagai instrumen dibandingkan untuk memastikan konsistensi temuan. Selain itu, dilakukan member checking dengan melibatkan peserta dalam mereview hasil wawancara dan temuan utama untuk memastikan akurasi interpretasi.</p>
      <p id="_paragraph-15">Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang mendalam tentang dinamika pemberdayaan kader Muhammadiyah dalam transformasi digital produk pertanian di lingkungan multikultural. Keterbatasan metode ini terletak pada keterbatasan waktu pelaksanaan dan keterlibatan sampel yang mungkin tidak sepenuhnya mewakili keseluruhan komunitas. Namun, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi model bagi upaya serupa di komunitas lain yang menghadapi tantangan dalam mengadopsi teknologi digital secara inklusif dan berkelanjutan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-3cb9c628667115a2cd97917ef273c92e">
      <title>
        <bold id="bold-ea4d5bfb1ff174af6e4557a43b7ca06c">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-17">Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan kader Muhammadiyah dalam transformasi digital produk pertanian di lingkungan multikultural Bromo Tengger memberikan dampak positif yang signifikan. Para kader mengalami peningkatan keterampilan digital, terutama dalam memanfaatkan platform media sosial dan e-commerce untuk memasarkan produk pertanian secara lebih luas [6] dapat dilihat pada gambar 2. Selain itu, mereka mampu mengintegrasikan pesan-pesan dakwah dalam strategi komunikasi digital, yang memperkuat identitas keislaman di tengah keberagaman budaya [7], [8].</p>
      <fig id="figure-panel-ab8b5c3e9789518d0359b8ba1c3bd771">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Penyuluhan ke pemuda muhammadiyah</title>
          <p id="paragraph-91252bf65b3c98d7e2f8fd74362899e8" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-4b3a3e125339d3bd5f40db976d57a30c" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="Picture1.jpg" />
      </fig>
      <fig id="figure-panel-d0ccf7811f4a3a7a4e0098c9d8039013">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <title>Pemberdayaan pada jamaah tani Muhammadiyah dan pengurus cabang Muhammadiyah tosari</title>
          <p id="paragraph-db92e35bd77d587154fcc8e5e353f44b" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-61dcded4d92a36187248146dbe61d268" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="Picture2.jpg" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-20">Peningkatan literasi digital terlihat dari kemampuan kader dalam mengelola konten digital seperti foto, video, dan narasi promosi yang menarik [9] pada gambar 1. Mereka juga mampu membangun jejaring pemasaran dengan komunitas lokal dan mitra eksternal, sehingga memperluas pasar produk pertanian [8], [10]. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan pentingnya literasi digital dalam meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global [11].</p>
      <p id="_paragraph-21">Namun, tantangan yang dihadapi mencakup keterbatasan akses teknologi di beberapa wilayah dan resistensi budaya terhadap perubahan digital. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan dakwah yang inklusif dan kontekstual terbukti efektif dalam membangun pemahaman dan penerimaan masyarakat [12]. Dengan membangun dialog yang menghormati nilai lokal, kader Muhammadiyah dapat memfasilitasi adopsi teknologi tanpa mengabaikan kearifan budaya setempat.</p>
      <p id="_paragraph-22">Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan komunikasi dan dakwah berbasis digital mampu menjadi jembatan antara teknologi dan nilai keislaman. Kader Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai agen pemasaran digital, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan sosial yang meneguhkan nilai-nilai moral dan keagamaan [13], [14], [15]. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi agar program pemberdayaan serupa diperluas ke komunitas lain dengan menyesuaikan pendekatan terhadap karakteristik budaya lokal.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-618228338fb7ce706f6d95da8e814c60">
      <title>
        <bold id="bold-b1392c3b5dad6efdcdadc3cb088b7861">Kesimpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-24">Penelitian ini membuktikan bahwa pemberdayaan kader Muhammadiyah dalam transformasi digital produk pertanian di lingkungan multikultural Bromo Tengger efektif meningkatkan literasi digital, memperluas jaringan pemasaran, dan memperkuat dakwah berbasis teknologi. Keberhasilan ini ditopang oleh pendekatan holistik yang mengintegrasikan pendidikan komunikasi, dakwah, dan teknologi digital. Untuk keberlanjutan program, disarankan adanya pendampingan berkelanjutan dan kolaborasi dengan berbagai pihak guna memastikan adaptasi teknologi yang inklusif dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi upaya pemberdayaan berbasis komunitas di era digital yang semakin berkembang.</p>
      <p id="paragraph-0a91476ea49ee7522d24175d8a68b9dc" />
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>